Pangan untuk Manusia Bersaing dengan Mobil


Kategory : Categories Pangan dan Pertanian
Posted on

Bila ketahanan pangan runtuh, kita tidak mampu mengatasi dampak perubahan iklim. Bahkan sekarang saja, bencana sudah mendera-dera dan hampir tak tertangani. Karena itu, sebelum terlambat pemerintah perlu membuat kebijakan yang mengembalikan kedaulatan pangan ke tangan kita sendiri

PANGAN MANUSIA AKAN BERSAING DENGAN MOBIL

(diterbitkan Majalah Nirmala edisi Mei 2008; sekarang bisa diakses di www.nirmala.co )

Seorang ibu dan dua anaknya di Makassar meninggal karena kelaparan. Lima orang meninggal kaerna kurang gizi di Ndao, Nusa Tenggara Timur. Ini terjadi di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi, diberkahi iklim, sumberdaya dan kekayaan budaya pertanian yang luar biasa, yaitu republik tercinta ini.

Ironi krisis pangan tidak hanya terjadi di Indonesia. The Sunday Herald pada 2007 melaporkan kerusuhan di Meksiko ketika harga tortilla (roti dari jagung, makanan pokok khas meksiko) meroket. Padahal Meksiko adalah tempat asal usul dan salah satu pusat keanekaragaman jagung di dunia. Ironi yang mirip dengan Indonesia. Lalu ada laporan tentang demonstrasi rakyat ketika harga gabah naik di Senegal, Mauritania dan beberapa tempat lain di Afrika. Di Yemen anak-anak protes dengan berjalan kaki untuk memberitahu dunia bahwa mereka kelaparan. Terakhir, bahkan di London, ratusan peternak babi melakukan protes di depan Downing Street, kantor Perdana Menteri Inggirs, mungkin karena harga pakan naik. Belum lagi para ahli meramalkan krisispangan yang sebenarnya justru akan terjadi pada 2008 ini. Ada apa gerangan?

Lingkungan Rusak, Iklim Berubah

Beberapa ahli dan teknokrat mengatakan krisis pangan adalah karena peningkatan jumlah penduduk dunia. Walaupun ini salah satu faktor, tapi faktor utama adalah bahwa bumi sudah tidak mampu menghidupi manusia karena sumberdaya alamnya rusak, bahkan iklimpun dibuat tidak stabil oleh ulah manusia.

Sudah lebih dari setengah abad manusia menebang hutan, mengisi sumber air dan tanah dengan bahan kimia berbahaya, mengabaikan keanekaragaman plasma nutfah pertanian dan meminggirkan kearifan masyarakat adat dan lokal dalam mengelola sumberdaya. Semua ini membuat alam kehilangan kemampuan memperbarui diri, kehilangan kemampuan produktifnya untuk menghasilkan pangan bagi manusia dan makhluk hidup lain.

Sementara itu, krisis karena perubahan iklim juga mulai dirasakan. Bumi makin panas, kata orang. Suhu bumi naik sekitar 1,8 derajat celsius sejak 1750, awal revolusi industri. Sumbernya adalah “sampah” yang kita buang ke udara. Kita telah membuang bahan kimia berbahaya ke bumi dan sistem air, tapi ternyata kita juga tidak menyisakan udara. Gas rumah kaca (GHG) yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil dari pembangkit listrik, industri, transportasi dan kebakaran hutan/lahan kita buang ke udara.

Setelah sekitar 200 tahun manusia menimbun GHG di udara, selimut bumi di atmosfer semakin tebal, maka suhu bumi naik. Akibatnya adalah perubahan iklim, menjadi lebih panas di beberapa tempat, lebih dingin di tempat lain. Bila berlanjut, misalnya suhu bumi naik di atas 2 derajat celsius, iklim menjadi tidak stabil. Es di pegunungan meleleh ke laut, dan membuat air laut naik. Bencana akan lebih intensif dan bahkan PBB memperkirakan akan ada sekitar 200 juta orang jadi pengungsi iklim pada 2050. (Untuk Indonesia diperkirakan tiga juta orang jadi pengungsi iklim pada 2020!).

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah kelompok ahli dalam bidang perubahan iklim, memperkirakan bahwa dalam 100 tahun mendatang, kenaikan permukaan air laut satu meter akan membanjiri sepertiga dari kawasan pertanian dunia. Selain itu, diperkirakan tanah subur seluas negara Ukraina hilang setiap tahun karena kekeringan, penggurunan dan instabilitas iklim. Dapat dibayangkan jumlah potensi panen pangan yang hilang.

Kita tidak usah menunggu 100 tahun lagi. Krisis sudah di ambang pintu. Tahun lalu, menurut the Sunday Herald, Austarlia mengalami kekeringan paling buruk dalam waktu seabad, dan produksi gandum menciut 60%. Panen gabah di China juga turun 10% dalam tujuh tahun terakhir. Indonesia? Dengan banjir dan tanah longsor di dua lumbung besar yaitu Jawa dan Sumatera, tidak mustahil produksi beras juga menciut.

Untuk Indonesia, para ahli memperkirakan perubahan iklim akan menurunkan kesuburan tanah sekitar 2% sampai dengan 8%, yang diperkirakan akan mengurangi panen padi sekitar 4% per tahun, kacang kedelai sekitar 10%, dan jagung sekitar 50%.

Berebut pangan dengan mobil

Ada krisis lain pula. Harga bahan bakar fosil dunia mulai meroket. Celakanya setengah abad ini produksi pangan dunia, termasuk Indonesia bertumpu pada pupuk kimia yang adalah produk samping dari bahan bakar fosil. Menurut Bank Dunia, biaya produksi pupuk naik 150% dalam 15 tahun terakhir. Artinya harga pangan juga naik karena biaya pemupukan mencakup seperempat dari biaya produksi gabah di AS, yang memasok 40% dari ekspor gabah dunia. Jadi tidak heran jika harga kedelai meroket baru-baru, karena Indonesia mengimpor hampir 60% dari kedelai yang diperlukan.

Karena bahan bakar fosil dinyatakan sebagai penyebab pemanasan global, maka muncul gagasan menggunakan bahan bakar nabati yang dikenal sebagai bioenergy, biodiesel, bioetanol. Bahan bakunya macam-macam, dari minyak jarak, minyak kelapa sawit hingga tebu dan jagung. Sekali lagi tidak heran jika harga minyak kelapa sawit naik tidak karuan di Indonesia, yang (ironisnya) adalah produsen terbesar minyak sawit! Karena orang Indonesia harus bersaing dengan mobil-mobil di Eropa, AS dan Jepang, yang mengimpor minyak sawit untuk bahan bakar. Tentu saja para pedagang memilih mengekspor minyak sawit dengan harga lebih tinggi daripada dijual di dalam negeri.

Tahun lalu seperempat dari panenan jagung AS diubah menjadi etanol untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Dan, AS memasok lebih dari 60% ekspor jagung dunia. Indonesia juga mengimpor sebagian jagung, terutama untuk makanan ternak. Jadi siap-siap produk ternak dan telur juga akan merayap naik.

Kontributor pemanasan global adalah orang-orang di negara maju. Sekarang mereka mengatakan bahwa solusinya adalah bahan bakar nabati. Tapi kata, Lester Brown, penulis Plan B 3.0, satu tanki bahan bakar nabati bisa memberi makan satu orang untuk satu tahun. Lebih parah lagi, sekarang ini 800 juta pengendara bermotor yang ingin mempertahankan mobilitasnya bersaing dengan dua miliar penduduk paling miskin di dunia yang perlu makanan hanya untuk sekedar hidup. Seyogianya, salah satu solusi ampuh perubahan iklim adalah mengurangi secara drastis kendaraan pribadi, bukan mengganti bahan bakarnya dengan sumber pangan.

Jadi, ketahanan pangan banyak negara diserang dari dua arah. Satu arah adalah kesalahan sejarah dalam mengelola sumberdaya alam sehingga rusak dan ketidakstabilan iklim. Arah yang lain gagasan bahwa perubahan iklim bisa diatasi dengan bahan bakar nabati, yang justru melemahkan akses orang miskin pada pangan di pasar dunia karena harganya melonjak tidak karuan.

Mengembalikan Kedaulatan

Hal-hal di atas seharusnya tidak memengaruhi ketahanan pangan di Indonesia, kalau saja para teknokrat dan birokrat kita tidak salah urus sumberdaya pertanian. Kita telah menggusur plasma nutfah pangan, demi padi unggul yang sekarang ternyata juga “tidak unggul” lagi karena sering terserang penyakit. Kita menggusur sistem pangan yang beragam demi “berasisasi” sehingga kita kehilangan banyak pangan pokok lain seperti umbi-umbian dan kacang-kacangan. Kita telah merusak hutan sehingga merusak sistem air dan menimbulkan erosi. Ini semua melemahkan ketahanan pangan kita.

Bila ketahanan pangan runtuh, kita tidak mampu mengatasi dampak perubahan iklim. Bahkan sekarang saja, bencana sudah mendera-dera dan hampir tak tertangani. Karena itu, sebelum terlambat pemerintah perlu membuat kebijakan yang mengembalikan kedaulatan pangan ke tangan kita sendiri. Caranya adalah mendukung pertanian yang beragam, tanpa bahan kimia dan mengembangkan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin. Demikian pula, peternakan tidak harus tergantung pada pakan buatan yang sarat bahan impor. Mereka bisa diberi makan bahan alami yang tumbuh di Indonesia, sehingga tidak terpengaruh fluktuasi harga kedelai dan jagung, misalnya. Selain itu, para produsen pangan, terutama petani kecil, juga perlu diberi dukungan agar lebih produktif dan tidak terus menjadi miskin. Teknologinya ada, dana bisa diusahakan, yang paling penting adalah kemauan pemerintah untuk menegakkan kedaulatan atas pangan dan energi nasional.

Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, amat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kita bisa bangkit bersama menghadapi persoalan ini atau memilih duduk diam dan jadi korban. Untuk menghadapi persoalan ini, kedaulatan atas pangan perlu dihidupkan kembali, melalui perbaikan sumberdaya alam, jeda perusakan sumberdaya alam lebih jauh, perbaikan sosial ekonomi petani, dan melalui kebijakan yang waras serta ramah pertanian.

Konsumen pangan, terutama yang mampu dan di kota, perlu menjadi pemimpin dalam hal ini. Mereka dapat memilih pangan lokal, pangan organik dan membayar harga lebih asalkan kelebihan harga itu benar-benar sampai ke petani. Dengan cara ini, sebagai konsumen kita membantu mengurangi pemanasan global dan mendorong kedaulatan pangan serta kesejahteraan petani. Dan yang terutama, melaui pilihan pangan yang tepat, kita bisa ikut mencegah agar anak cucu kita tidak pengungsi iklim yang kurang pangan pada 2050 nanti!

Hira Jhamtani

Pemerhati kehidupan, peneliti lingkungan hidup dan globalisasi, tinggal di Gianyar, Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *