Melestarikan Alam : Tugas Anak-anak atau Orang Dewasa?


Kategory : Categories Alam dan Hidup
Posted on

Melestarikan alam atau lingkungan bukan hanya tugas orang dewasa saja. Anak-anak juga bisa berperan menjadi “pahlawan lingkungan”.

Catatan: Dimuat dalam Kreatif, koran/tabloid anak-anak yang terbit pada 2001

kreatif

Menurut Mbak Hira Jhamtani,anak-anak bisa belajar tentang masalah lingkungan dan bagaimana caranya melestarikan lingkungan. Mbak Hira adalah perintis (yang mendirikan) Konphalindo (Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia). Konphalindo merupakan pusat informasi lingkungan hidup.

Pertama, kita bisa memperhatikan keadaan lingkungan disekitar kita, yaitu di rumah, di sekolah dan di jalan yang sering kita lalui. Dari pengamatan seperti itu kita bisa mengetahui dan menentukan masalah lingkungan apa yang ada di sekeliling kita.

Lalu kita bisa membaca buku-buku dari perpustakaan tentang lingkungan hidup atau minta diterangkan oleh guru atau orang dewasa lainnya.

Tetapi yang menentukan masalah lingkungan apa yang harus dipelajari adalah kita sendiri, bukan orang tua atau guru. Belajar masalah lingkungan tidak hanya memakai nalar atau hanya pikiran tetapi juga memakai perasaan dam kesadaran.

Contohnya untuk anak-anak yang tinggal di kota, masalah sampah dan air yang tidak bersih. Kita bisa mencari tahu mengapa di kota sering terjadi banjir atau mengapa teman-teman kita sering sakit batuk dan flu. Apakah karena udaranya kotor atau ada penyebab lain. Atau kita yang hidup di desa dan bertani, kita bisa menyelidiki apakah cara bertani (cara membajak, mengairi dan lain-lain) yang dilakukan itu merusak lingkungan atau tidak.

Kalau kita pergi jalan-jalan ke gunung atau kepantai, selain bersenang-senang, kita bisa mengamati keadaan lingkungan di daerah tersebut.

Mbak Hira menyesalkan, sekarang ini justru orang dewasa yang merusak lingkungan hidup, jadi perilakunya tidak patut ditiru oleh anak-anak.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa menjaga kelestarian alam melalui hal-hal yang mungkin kelihatan tidak penting, tetapi ternyata manfaatnya sangat besar. Kita bisa minta bantuan ibu atau ayah untuk menanam tanaman langka (yang jarang ditemukan). Kalau tidak ada halaman, bisa ditanam di pot-pot. Mugkin kelihatannya tidak berarti apa-apa jika hanya satu tanaman.

Bayangkan jika satu anak menanam dan memelihara dua saja tanaman langka, maka satu juta anak sudah dapat menanam dua juta pohon beraneka jenis. Tanaman ini nantinya bisa menjadi bibit bagi mereka yang ingin menanamnya lebih lanjut”, begitu penjelasannya.

Selain itu Mbak Hira mengajak kita menyimak masalah banjir dan kebakaran hutan di Indonesia, lalu meminta pemerintah lebih sungguh-sungguh mencegah serta mengatasinya.

Kita yang sudah paham tentang perlunya melestarikan alam bisa menjadi ‘’guru’’bagi orang dewasa di sekitar kita. Mbak Hira memberi contoh, seorang temannya yang perokok berat akhirnya berhenti karena anaknya selalu protes jika sang ayah merokok.

Menurut Mbak Hira, cara lainnya adalah kita membiasakan diri menghemat pemakaian air, listrik dan bahan-bahan lain yang terbuat dari alam (seperti kertas dan plastik)

Kita bisa juga menghemat pemakaian kertas, plastik atau botol. Mbak Hira memberi contoh sang ibu (almarhum) dan ibu mertuanya.

Katanya, “Mereka berdua selalu menyimpan kertas kado, kantong plastik , hiasan dan lain-lain yang diperoleh untuk digunakan kembali. Kita hemat uang dan juga mengurangi sampah. Kalau plastik, kertas bekas dan botol bekas sudah numpuk, ya di berikan ke tukang sayur atau pemulung yang dapat memanfaatkannya”. Menurut Mbak Hira, hemat itu membantu melestarikan lingkungan.

Yang paling penting diingat, kita ini adalah bagian dari alam, kalau alam kita rusak artinya kita merusak diri sendiri” demikian kesimpulan Mbak Hira.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *