Salah Naik Gerbong di India


Kategory : Categories Jalan-jalan
Posted on

Gerbong yang saya tumpangi  ternyata ditinggalkan di tengah jalan. Bukan hanya itu yang saya alami  ketika berkunjung ke India tahun lalu (1987). Taksi yang saya tumpangi pun hanya boleh membeli bensin 1 liter!

Diterbitkan Majalah Intisari No. 299 Tahun XXV, Juni 1988, hal 142-144.

Bulan Oktober 1987 saya dan seorang kawan diundang untuk menghadiri konperensi tentang perusakan hutan di New Delhi, India. Usai pertemuan, kami diundang oleh CHIPKO, gerakan peluk pohon (pencinta alam) di India, untuk berkunjung ke Desa Uttarkashi, di kaki Peg. Himalaya. Ketika tiba di tempat, ternaya ada Pusat Informasi Wisatawan. Brosur dari kantor ini menyebutkan bahwa Gangotri, yang benar-benar kaki Peg. Himalaya dan merupakan hulu S. Gangga, hanya sekitar 100 km lagi! Akhirnya kami tergoda untuk mengunjungi daerah ini.

 

salah naik

Stasiunnya Penuh Monyet

Jadilah kami berangkat subuh esoknya. Karena masih gelap belum ada pompa bensin yang buka. Namun, supir taksi yang kami sewa dengan yakin membawa kami ke Gangotri. Tempat itu memang indah. Namun, pulangnya cukup siap bagi kami. Tak satu pompa bensin pun yang nampak. Upaya untuk minta ke markas tentara pun tidak berhasil. Akhirnya si supir nekat membawa kami turun tanpa menyalakan mesin mobil, kecuali pada tanjakan. Menyetirnya pun seenaknya. Kawan saya sudah merasa ngeri, menutup mata hampir sepanjang jalan. Saya sempat berkata, “Tenang saja. Supir taksinya bekas tentara, kok!”. Kami tetap jalan tanpa menghidupkan mesin hampir 60km. Pada jarak sekitar 10km dari Uttarkashi barulah diperoleh bensin. Itupun hanya 1 liter!

Esoknya kami ingin kembali ke New Delhi. Kami disarankan untuk naik bus ke Hardwar dan dari sana kaik kereta api malam ke New Delhi. Stasiun Kereta Api Hardwar agak unik. Orang yang lalu-lalang banyak berpakaian oranye seperti para pendeta dan stasiunnya dihuni oleh monyet.

Kota ini memang kota suci bagi umat Hindu di India. Ketika kereta jurusan Delhi tiba pada pukul 23.00, kami langsung menyerbunya, mencari tempat duduk kosong dan langsung tidur. Pada pukul 01.00 kawan saya terbangun dan mendapatkan kereta berhenti total. Ia turun dan mendapatkan bahwa hanya ada tiga gerbong tanpa lokomotif. Dengan terkejut ia membangunkan saya. Ternyata kami salah masuk gerbong. Karena sudah malam, gelap dan ada di stasiun asing, kami memutuskan tidur sampai pagi. Apalagi dalam gerbong masih ada beberapa penumpang yang lelap tertidur.

Anehnya sekitar pukul 03.00 gerbong kembali jalan, ditarik lokomotif. Karena rasanya lebih aman jika kereta berjalan, kami pun tidur lagi. Pokoknya, sampai New Delhi.

Sport Jantung

Pada pukul 05.30 kereta berhenti. Para penumpang pun bangun. Ada yang turun dan ada yang naik. Saya yang bisa berbahasa Hindi ditugaskan untuk bertanya kepada penumpang yang baru naik. Tujuan mereka adalah Lucknow. Sedangkan stasiun ini adalah Moradabad.

Ya ampun! Kereta Hardwar – New Delhi ternyata memisahkan tiga gerbong pada suatu titik tujuan untuk ditarik oleh kereta api yang ke Lucknow. Untungnya, ada kerea api yang ke New Delhi dari Moradabad pada pukul 06.45. Kami segera turun, membeli karcis lagi dan menunggu kereta. Kali ini kami berhati-hati. Kami bertanya pada beberapa penumpang yang menunggu di jalur yang sama. Setelah yakin bahwa kereta pukul 06.45 di jalur itu memang ke New Delhi, baru kami duduk. Itupun dekat dengan orang-orang yang menyatakan akan ke New Delhi.

Sepanjang perjalanan kawan saya masih sempat tidur. Sementara saya setengah tidur, karena ngeri gerbong akan tertinggal lagi. Akhirnya setelah lima jam kami sampai di Delhi. Kami benar-benar merasa lega setelah mengenali beberapa tempat di New Delhi dari jendela kereta api. Luamyan juga sport jantung dua kali dalam waktu dua hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *