Dilarang Memotret Saat Pesawat Mendarat


Kategory : Categories Uncategorized
Posted on

Mengelilingi Danau Dal pada pagi hari dengan sampan terasa seperti berjalan-jalan di sebuah perkampungan atau desa kecil. Di atasnya sampai terjadi berbagai macam transaksi bahan-bahan pokok antra penjual dari daratan dengan penghuni atau pemilik house boat.

Pengalaman jalan-jalan di Kashmir 32 tahun lalu masih lekat dalam ingatan saya. Cuplikan pengalaman tersebut sempat dituliskan dalam majalah Intisari, sebagai kenang-kenangan. Berikut replikasinya.

kashmir intisari

Di Korea Selatan memang tidak mungkin, karena waktu check-in film harus dikeluarkan dulu dari kamera atau kamera harus dititipkan selama penerbangan. Namun, ternyata larangan membuat foto itu juga ada di Srinagar dan Agra, seperti yang dialami Hira P. Jhamtani ketika berlibur ke india.

DILARANG MEMOTRET SAAT PESAWAT MENDARAT

(Intisari Mei 1987, hal 76-82)

Walaupun terjadi pembajakan pesawat Indian Airlines yang melayani penerbangan New Delhi – Amritsar – Srinagar, kami tidak bisa menahan diri untuk pergi ke Kashmir. Teman-teman berusaha membujuk kami agar membatalkan niat itu, apalagi karena sebulan sebelumnya terjadi kerusuhan hebat di Amritsar, kota suci kaum Sikh. Ketika itu bulan Juli 1984. Namun, seperti banyak turis lain, kami memaksa juga pergi.

Rebutan tempat

Kami memesan tempat untuk penerbangan New Delhi – Amritsar – Srinagar dua minggu sebelumnya.

Pada hari yang ditentukan, saudara saya dan saya pergi ke Bandar Udara New Delhi. Kami lihat calon-calon penumpang berjejal-jejal di bagian konfirmasi Indian Airlines. Alangkah kecewanya kami, ketika mengetahui bahwa walaupun sudah memesan tempat dua minggu, kami dimasukkan ke daftar tunggu, itupun saya mendapat nomor 83! Ada orang inggris yang sudah memesan tempat setahun sebelumnya lewat biro perjalanan di negerinya. Karena terlambat melapor, ia dijebloskan juga ke daftar tunggu.

Beginilah susahnya berpergian di negara padat pada musim libur. Apalagi cuma ada dua penerbangan hari itu. Penerbangan dengan rute itu dikurangi sejak ada pembajakan.

Karena banyak turis yang kebingungan, petugas menyarankan agar kami melapor ke manajer Bandar Udara. Di sini jarang ada petugas humas yang ramah, tapi disiplinnya tinggi. Banyak turis setengah memaksa dan bahkan setengah mengancam untuk minta tempat kepadanya.

Untungnya kami termasuk yang bisa berangkat hari itu juga, sehingga jadwal liburan kami tidak terganggu. Dari udara kelihatan Amritsar di Punjab seperti permadani hijau, sebab Punjab daerah tersubur di India.

Sebelum mendarat di Amritsar, seorang turis kulit putih memotret dari udara. Ternyata ketika mendarat ia di minta turun membawa paspor dan kameranya. Di setiap sudut bandar udara tampak polisi berjaga. Kami tidak perkenankan turun, sedangkan para penumpang yang naik di Amritsar diperiksa sekali lagi dengan seksama di kaki tangga.

Turis kulit putih yang tadi dipanggil, kini kembali membawa paspor dan kameranya. Katanya, filmnya diambil. Seorang India yang duduk di sebelah saya berkata bahwa kita akan mendapat film baru supaya tidak merasa dirugikan.

Larangan memotret diumumkan di pesawat setelah lapas landas. Konon peraturan itu juga berlaku pada saat akan mendarat di Srinagar dan Agra.

Awas, calo!

Hampir pukul 13.30 pesawat melintasi wilayah Srinagar. Dari pesawat, kelihatan hutan pinus yang cukup luas membentang. Alam Srinagar memang idah, tetapi beberapa bukit dan pegunungan tampak gundul.

Setelah pesawat mendarat, kami menuju ke bagian informasi turis. Jika ingin bertemu dengan petugas India yang murah senyum, di sinilah tempatnya. Kami menanyakan apakah aman menginap di house boat (rumah kapal) dalam situasi politik yang cukup rawan saat itu. Di luar dugaan, petugas menyatakan bahwa peringatan-peringatan tentang bahaya itu dan juga jam malam yang berlaku, hanya sebagai propaganda politik saja. Ia menambahkan pula bahwa wilayah Kashmir merupakan wilayah paling aman di India dengan kejujuran penduduknya yang luar biasa. “jika kamera buatan Jepang Anda ketinggalan di suatu tempat, Anda pasti akan mendapatkannya kembali, jika seseorang mengetahuai bahwa Anda pemiliknya,” demikian komentar salah seorang kerabat saya. Padahal alat elektronika buatan luar negeri amat sukar didapat di India.

Petugas informasi menyarankan kami untuk menghubungi pusat pelayanan wisatawan yang terletak di kota, yang jaraknya 25 km dari Bandar udara. Untuk mencapainya, kami dapat naik bus Indian Airlines dengan membayar tarif yang relatif lebih murah daripada taksi. Namun, kami diperingatkan untuk berhati-hati terhadap calo hotel dan house boat.

Saya mulai mengerti betapa menjengkalkannya calo, ketika saya melihat seorang turis kulit putih dikerumuni mereka. Masing-masing calo berusaha meyakinkan sang turis bahwa ia yang menawarkan tempat yang paling baik. Tarif sebuah kamar di house boat (atau shikara) hanya sekitar 30 – 100 rupee (± Rp 3.000,00 – 10.000,00 saat itu). Itu sudah termasuk pelayanan sampan untuk menyeberang pergi pulang ke house boat. Tarif hotel juga relatif lebih murah. Rupanya harga bersaing diterapkan di situ.

Kota taman

Pusat pelayanan wisatawan dikelola oleh pemerintah Negara bagian Jammu dan Kashmir. Sepanjang jalan tidak terdapat tanda-tanda kerusuhan. Mungkin karena hari itu hari minggu, toko-toko tutup. Yang menarik disitu adalah jumlah polisi. Pada setiap 100-500 m terlihat dua atau tiga orang polisi bersenjatakan pentungan. Berbeda dengan kota kota pariwisata lain, Srinagar hampir tidak mempunyai hotel atau rumah makan yang mewah. Secara keseluhuran Srinagar, walapun merupakan ibu kota negara bagian, tampak sebagai desa besar.

Rupanya walaupun kota itu banyak dikunjungi wisatawan, tetapi kota dan penghuni tidak banyak terpengaruh. Kesederhanaan juga tercermin pada gedung pusat pelayanan wisatawan. Gedung tua dengan langit-langit tinggi itu menyediakan sarana lengkap dalam melayani wisatawan. Di seberang bangunan terdapat pangkalan taksi yang dikelola perorangan. Papan tarif dipasang untuk memudahkan para wisatawan dan guna menghindari penipuan.

Srinagar adalah kota taman. Di sana sini tampak taman yang ditata khas. Teman-teman itu dibuat oleh keluarga Mughal, yaitu oleh Jahangir dan iparnya. Taman Shalimar, Nishat dan Chishmashahi mendapat julukan Mughal Garden. Semuanya mempunyai bentuk bertingkat. Di bagian teratas Taman Chishmashahi yang dekat perbukitan mengalir air bening dari gunung. Di situ pengunjung bisa minum air alami yang bersih. Pohon-pohon apel juga melengkapi taman itu. Jika sedang berbuah, pengunjung juga boleh memetiknya.

Pada hari minggu semua taman terbuka gratis untuk umum. Pada hari biasa hanya Chishmashahi, yang memasang tariff dua rupee. Pemandu wisata kami mengatakan bahwa jika banyak wisatawan asing, lampu- lampu taman di Chismashahi akan dinyalakan pada malam hari. Pastilah pemandangan di situ sangat indah. Soalnya, kami pernah melihat taman yang diterangi lampu hampir pada setiap sudutnya di Brindavan, bagian selatan India. Sayang sekali, saat itu Srinagar sedang sepi pengunjung.

Dari keadaan sepi pengunjung itulah timbul percakapan tentang keadaan Khasmir saat itu. Baik pemandu wisata maupun supir taksi mengeluh. Sejak terjadi kerusuhan dan berlakunya jam malam, jumlah wisatawan menurun drastis. Hal seperti itu sebelumnya tidak pernah terjadi. Hal itu juga berarti menurunnya pendapatan penduduk Srinagar. Hampir semua sektor mengalami masa merana, sehingga persaingan semakin ketat. Kerusuhan terjadi akibat digesernya menteri Negara Faroukh Abdullah, yang digantikan dengan M.G. Shah.

Kami juga ikut tour ke Gulmarg, suatu tempat sekitar 56 km dari Srinagar. Peserta tour terdiri atas saya dan saudara saya serta dua belas orang dari Taiwan. Padahal bus yang akan kami tumpangi mampu menampung 45 orang.

Setelah menempuh perjalanan yang berkelok-kelok dan curam, kami sampai di Gulmarg sekitar pukul 12.00. Daerah yang mempunyai salah satu lapangan golf tertinggi itu juga menyediakan nature walk, yaitu jalan yang melintasi hutan pinus yang disediakan untuk pejalan kaki dan penunggang kuda. Itulah sebabnya begitu kami turun dari bus, kami diserbu penggembala kuda. Seseorang bisa dikerumuni tujuh atau sepuluh orang penggembala kuda. Papan tarif juga terpampang di pangkalan kuda. Namun, kami memilih makan siang lebih dulu sebelum memutuskan jalan kaki atau naik kuda ke Khilanmarg.

Perjalanan pergi pulang Khilanmarg dengan kuda memakan waktu tiga jam. Tarifnya adalah 30 rupee per orang per kuda. Jika ingin seorang pengawas turut serta, bagi penunggang kuda yang belum mahir, tarif tambah 20 rupee. Naik kuda menyusuri jalan-jalan setapak yang melingkar dan mendaki sambil melintasi hutan pinus, kadang jalan-jalan itu becek dan licin akibat gerimis yang turun, tentu saja memberi kesan tersendiri. Juga sering terdengar suara burung gagak yang melintas.

Khilanmarg merupakan sebuah daratan tertinggi di sekitar situ. Kalau musim dingin, salju sering turun. Pada musim dingin, tempat itu di penuhi oleh wisatawan yang ingin bermain ski.

Sebelum kembali ketempat parkir bus, kami sempat naik kereta gantung untuk menikmati hutan pinus dari atas. Ketika kami kembali ke bus, rombongan dari Taiwan belum ada. Menurut pemandu, mereka diserbu penggembala kuda dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk menghindar.

Kebun terapung

Kini saya akan menceritakan kehidupan di atas house boat atau shikara di Danau Dal di Srinagar. Di danau yang luas itu house boat terparkir berderet-deret, lengkap dengan papan nama serta embel-embel bintang lima. Danau yang menghadap ke jalan raya itu mempunyai pulau-pulau yang dapat berfungsi sebagai taman atau kebun terapung. Pada malam hari cahaya lampu house boat akan tampak seperti parade pelita di permukaan air. Kehidupan yang khas itu merupakan salah satu daya tarik Kashmir, khususnya Srinagar.

Mengelilingi Danau Dal pada pagi hari dengan sampan terasa seperti berjalan-jalan di sebuah perkampungan atau desa kecil. Di atasnya sampai terjadi berbagai macam transaksi bahan-bahan pokok antra penjual dari daratan dengan penghuni atau pemilik house boat. Romantika itu juga berlaku bagi wisatawan yang berkeliling di tempat itu. Biasanya ada anak-anak yang menawarkan bunga atau buah tertai. Atau orang dari darat menawarkan walnut, perhiasan imitasi atau hasil kerajinan tangan lainnya.

Kalau hendak mengelilingi Danau Dal, kita membutuhkan waktu sekitar dua jam. Agak jauh dari perkampungan house boat terdapat Taman Nehru, yang dari jauh tampak seperti pulau kecil. Di situ ada Char Chinar (baca:car cinar, artinya empat pohon). Soalnya pada pulau kecil itu hanya ada empat pohon pinus. Tidak ada lain-lainnya lagi. Itulah justru keunikannya.

Taman lain yang menarik ialah Floating Garden atau Kebun Terapung. Kebun yang dekat dengan perkampungan itu isinya hanya teratai dan rumput air yang di gunakan untuk membuat karpet. Sepanjang jalan sekeliling danau kami dibuat sibuk oleh penjaja barang-barang dan cerita pendayung sampan. Seperti pada tempat-tempat lain, di situ banyak penjaja macam-macam, tetapi sedikit pembeli. Rupanya kerusuhan di Punjab berarti menurunkan nafkah penjual makanan.

Ketika kami naik sampan, pendayung yang lugu bercerita bahwa orang filmpun kini tidak memilih Kashmir untuk film mereka. Umumnya orang fim di India mengeksploatasi keindahan pemandangan Kashmir untuk film mereka. Namun, saat itu tidak ada yang berani mengambil resiko melakukan pengambilan gambar di situ.

Ketika kami melewati perkampungan para pengrajin, kami diajak mampir. Sayang sekali kami menolaknya, karena harus cepat-cepat ke bandara udara untuk kembali ke Bandar udara untuk kembali ke New Delhi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *