Memerdekakan Dapur dan Piring Makan


Kategory : Categories featured, Mari Masak dan Makan, Rasa dan Bebas Pikir
Posted on

Setelah 71 tahun merdeka, apakah dapur dan piring makan para keluarga sudah berdaulatn? Banyak keluarga di perkotaan dan sub-urban meninggalkan kegiatan memasak. Itulah yang diinginkan oleh industri makanan. Padahal memasak adalah ketrampilan dasar. Jika setiap warga negara berdaulat di dapurnya, maka negeri itu merdeka secara keseluruhan dan dari segala arti, aspek, sisi, dan sudut pandang.

Makanan masak sendiri

Apakah yang anda masak hari ini di dapur? Seandainya anda membuat telur ceplok di pagi hari, kita perlu bertanya tentang asal usul telur itu. Telur berasal dari ayam yang disebut ayam negeri atau broiler, berasal dari persilangan ayam dari luar negeri dengan ayam kampung. Ayam-ayam itu warna bulunya satu jenis saja yaitu putih. Waktu saya kecil ayam-ayam punya bulu aneka warna. Ayam negeri diberi makan konsentrat yang bahannya sebagian adalah jagung dan gandum impor, lalu disuntik hormon yang saya tidak tahu berasal darimana, dan tentu saja antibiotik. Dan ayam-ayam itu menghabiskan seluruh hidupnya (yang singkat) di dalam penjara berupa kurungan dan padat isinya?

Kalau ayam itu tidak berdaulat, maka apakah dapur yang memasak telur dan diletakkan di piring makan kita bisa dinyatakan sebagai berdaulat? Dalam rangka 71 tahun merdeka, saya ingin berbagi renungan tentang bagaimana dapur dan piring makan kita kolonisasi oleh penjajah yang tidak terlihat.

Akses pada bahan bakar

Untuk memasak, kita perlu bahan bakar. Pemerintah sebuah negara berdaulat seharusnya menyediakan akses pada pelayanan bahan bakar yang bersih. Tapi berdasarkan data Bank Dunia 2010 diperkirakan di Indonesia ada 103 juta orang yang masih memasak dengan bahan bakar kayu, yaitu mencakup sekitar 40% lebih rakyat Indonesia (IESR, 2015). Di pedesaan, masyarakat, terutama para perempuan, menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengumpulkan kayu bakar.

Di perkotaan, orang menggunakan LPG untuk memasak. Ketersediaan dan harga LPG ditentukan oleh negara, tapi kita sering menemukan bahwa LPG langka, atau harganya naik mengikuti pasang surut pasar. Hal ini lebih parah di luar Jawa, dimana ada kalanya orang harus antri lama untuk mendapatkan satu tabung LPG.

Bahan baku LPG berasal dari Indonesia, tapi ada banyak pihak termasuk dari perusahaan asing yang terlibat dalam proses produksinya. Dan sebagian gas juga diekspor. Para tengkulak kerap mempermainkan persediaan gas sehingga timbul istilah kelangkaan gas dan membuat harganya melambung di atas harga yang ditetapkan pemerintah. Pemerintah juga kerap tidak mengendalikan pasokan dan harga LPG. Agar semua keluarga mendapatkan makanan hangat, maka pelayanan bahan bakar modern harus dibuat menjadi berdaulat.

Kita bisa berdaulat atas bahan bakar, bila kita semua menggunakan biogas dengan bahan baku kotoran manusia dan kotoran dapur. Pemerintah hanya perlu memfasilitasi agar bahan-bahan untuk konstruksinya mudah didapatkan, memberikan kredit lunak, dan menyediakannya secara bebas kepada masyarakat termiskin. Menggunakan energi matahari juga merupakan salah satu upaya menuju kedaulatan atas energi namun hal ini hampir tidak tersentuh oleh pemerintah. Pemerintah bisa melakukan, tetapi tentu saja bila kedaulatan energi diberikan ke rakyat, maka pengusaha energi akan kehilangan laba.

Bila setiap keluarga bisa mendapatkan akses pada energi untuk memasak, secara berkelanjutan, lancar dan dengan harga terjangkau, itulah saatnya kita mengatakan MERDEKA!

Siapa yang memiliki Air?

Memasak memerlukan air. Dan kita semua minum air dan PBB sudah mengatakan bahwa air adalah hak azasi manusia. Alangkah eloknya jika semua masyarakat di Indonesia bisa minum air langsung dari kran. Pelayanan air layak minum kepada masyarakat, menurut saya, adalah salah satu kewajiban pemerintah yang paling diabaikan, dan paling tidak dipertanyakan publik. Saya, misalnya, sudah menunggu 10 tahun untuk mendapatkan sambungan air PDAM di desa di Gianyar yang hanya 25 km dari Sanur di Bali. Dan, depo PDAM Gianyar hanya terletak sekitar 500 meter dari rumah saya. Jawaban klasik PDAM adalah bahwa belum ada investasi untuk menyediakan sambungan pipa air minum baru.

Pada 2012 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat bahwa negara ini memiliki peringkat terburuk dalam pelayanan ketersediaan air bersih dan layak konsumsi se-Asia Tenggara. Pimpinan Indonesia Water Institute, Dr. Ir. Firdaus Ali, M.Sc mengatakan, baru 29 persen masyarakat Indonesia yang dapat mengakses air bersih melalui perpipaan (Liputan6.com, 2015).

Saat ini, semua perusahaan air minum di Indonesia yang berjumlah 425 perusahaan, di bawah pengelolaan pemerintah daerah, melayani sekitar 10 juta sambungan rumah atau setara dengan 60 juta orang atau 25 persen dari total penduduk. Dari sisi volume, itu setara dengan 3,2 miliar liter pada 2013. Bandingkan dengan volume penjualan air minum dalam kemasan milik swasta yang mencapai 20,3 miliar liter (2013). Tahun 2014, volumenya naik menjadi 23,9 miliar liter (Kompas 3 maret 2015).

Di negeri ini, perusahaan air minum dalam kemasan mudah mendapatkan ijin sementara menyediakan sambungan pipa air minum untuk para keluarga hingga ke desa tidak terlalu diperhatikan. Oh ya, sebagian saham perusahaan air minum juga sudah dimiliki perusahaan multinasional asing.

Di sisi lain, mata air alami, sungai sumber air banyak yang tercemar sehingga masyarakat setempat tidak bisa mendapatkan air bersih. Untuk mengatasi ini, dicitrakan bahwa air minum dalam kemasan adalah jawaban bagi air yang sehat. Pertama, air dibiarkan tercemar, kedua, perusahaan air minum dalam kemasan diberikan keleluasaan agar masyarakat bisa membeli air.

Darimana air di dapur anda berasal? Itu pertanyaan yang mengusik. Kedaulatan atas air bisa diperoleh apabila pemerintah menertibkan perijinan air dalam kemasan, menegakkan peraturan tentang pencemaran air, dan mengeluarkan anggaran cukup untuk program pelayanan air bersih bagi warga negara. Berdaulat adalah apabila semua rumah tangga di Indonesia mendapatkan akses pada air bersih siap minum, dengan harga terjangkau.

Penguasaan Bahan Pangan

Saat memasak menggunakan garam, minyak goreng, gula, tempe dan bahan lain, apakah kita tahu asal usul bahan tersebut? Kita berpikir garam berasal dari petani garam di pinggir pantai. Anda beli garam di pasar atau di toko, dalam kemasan. Yang tidak diketahui adalah bahwa garam tersebut diproses ulang di pabrik dan ditambahkan aditif yang kita tidak paham. Selain itu, ternyata, Indonesia impor garam. Menurut Badan Pusat Statistik, dalam tiga bulan pertama di 2016 (Januari-Maret), garam yang diimpor Indonesia sebanyak 453.968 ton, dengan nilai US$ 17,8 juta. Garam diimpor dari Australia, India, Selandia Baru, Inggris, Singapura dan beberapa negara lain (DetikFinance, 2016). Negeri maritim terbesar di dunia ini impor garam!!

Mari kita lihat tempe dan tahu. Keduanya dibuat dari kedelai dan Indonesia mengimpor sebagian besar kedelai terutama dari Amerika Serikat dan Argentina. Kedua negara ini menanam kedelai hasil rekayasa genetik yang umum dikenal sebagai GMO (Genetically Modified Organism atau organisme hasil rekayasa genetik). Anda dan banyak orang lain tidak tahu hal itu dan tidak diberi tahu. Demikian pula, sebagian gula kita juga impor dan kita tidak tahu tambahan apa yang ada dalam gula itu. Jangan heran pula jika sekarang ada impor singkong, ketan dan wortel, entah apa lagi. Untuk beberapa bahan pangan lainnya, kita masih tergantung pada perusahaan multinasional untuk benihnya misalnya sawi, buncis dan aneka sayuran lain.

kacang lokal

Minyak goreng adalah produk dalam negeri, tapi keberadaan dan harganya ditentukan para kartel perusahaan. Bahan impor ataupun bahan dalam negeri, harga pangan dipermainkan oleh para tengkulak dan gejolak harga di luar negeri.

Sementara kita melupakan sumber pangan yang lebih bisa kita kuasai, misalnya minyak kelapa dan gula dari kelapa. Keduanya dahulu biasa dibuat oleh rumah tangga atau kelompok di desa. Kita sudah lupa dengan produk rakyat dan produk rumah tangga.

Negara berdaulat bila rakyatnya berdaulat atas pangannya sendiri.

Penjajahan atas Rasa

Dalam perbincangan sering kita dengar bagaimana anak tidak mau makan sayur, atau tidak mau makan bila kurang garam, atau kurang gula. Dari kecil, rasa dibentuk oleh pasar melalui susu formula untuk bayi, makanan bayi, kudapan anak-anak dan susu untuk berbagai usia dan tentu saja minuman ringan. Belum lagi gerai makanan siap saji yang penuh dengan makanan tidak sehat. Semuanya dilakukan melalui transformasi pikiran masyarakat dengan menyajikan iklan di televisi dan media lain.

Tayangan iklan bertubi-tubi, setiap hari, setiap saat telah menumpulkan daya logika dan memicu rasa konsumtivisme. Akibatnya makanan pabrik dianggap lebih lengkap gizinya, lebih enak rasanya, dan lebih keren tentunya. Maka jangan heran jika anda bertemu kaum muda yang tidak bisa membedakan berbagai jenis bumbu rempah dan sayuran.

Tidak heran pula bila para ibu dan juru masak tidak punya keyakinan diri memasak tanpa bumbu masak, aditif, kaldu buatan dan merek kecap atau minyak goreng tertentu. Makanan tradisional seperti sayur asam, lodeh dan nasi goreng sudah kehilangan rasa gurih alaminya, digantikan oleh kaldu kemasan dan bumbu masak yang tidak jelas isinya dan dampaknya pada kesehatan.

Rasa lidah dan kedaulatan atas tindakan memasak sudah dijajah oleh pasar. Kalau untuk urusan ini, adalah keputusan kita apakah kita mau memerdekakan rasa dan masakan kita. Bila itu dilakukan, maka kita sudah MERDEKA.

Pengetahuan yang hilang

Ketika saya kecil, bila terserang batuk, ibu akan membuatkan jamu terdiri dari daun kemangi, kapulaga, adas, dan lada hitam. Persediaannnya ada di halaman rumah dan dapur. Kita sudah lupa bahwa dapur adalah apotik yang menyediakan obat dan tonikum tanpa biaya berarti. Banyak ibu muda sekarang panik bila anaknya diare. Dahulu kita tahu garam dan gula dalam air adalah pertolongan pertama diare. Setelah itu cari daun jambu biji di halaman rumah untuk mengatasi diare. Sekarang, para keluarga segera membawa anak ke dokter, dan dalam kasus berat, mereka membawa anak ke rumah sakit, yang mengeluarkan banyak biaya.

Kita tidak punya lagi pengetahuan tentang kunyit dan rempah lain yang adalah obat infeksi, sakit maag, kanker. Semua urusan kesehatan diambil alih oleh perusahaan obat multinasional. Pengetahuan tentang bahan makananpun mulai menghilang. Demikian pula bahan makanan tersebut. Misalnya, kelor sudah lama ditinggalkan masyarakat di kota (sekarang kelor menjadi primadona lagi setelah dipahami nilai gizinya), daun katuk, daun dan bunga turi, genjer sudah tidak dikenal lagi. Kaum muda tidak paham dan tidak peduli tentang bahan pangan dan asal usulnya. Mereka hanya tahu kalau lapar, ya makan di rumah makan atau warung.

Mengetahui dan memahami manfaat bahan pangan adalah keputusan kita. Mari kita memutuskan untuk mengasah pengetahuan kita.

Keluarga Memasak = Keluarga Berdaulat

Iklan yang bertubi-tubid di berbagai media, anjuran para dokter dan rumah sakit telah menjadikan kita sebagai konsumen aktif bahkan sejak bayi. Silakan simak iklan susu bayi, makanan awal bayi, sabun dan shampoo bayi. Oh tidak, kita dijadikan konsumen bahkan ketika masih dalam rahim ibu. Ingat dengan iklan susu kehamilan? Seolah-olah bayi tidak akan pernah sehat tanpa susu kehamilan.

Menginjak tiga tahun, ada susu untuk anak tiga tahun, lalu lima tahun ada lagi susunya. Setelah itu ada susu untuk pertumbuhan dan untuk otak. Padahal kita tidak pernah tahu dan paham apa isinya. Silakan lihat komposisinya di kemasan, anda akan menemukan beberapa komponen yang tidak kita pahami. Lalu ada makanan dan aneka camilan termasuk makanan awetan yang tidak jelas asal usulnya dan dikatakan “enak”. Selanjutnya ada bedak dan aneka kosmetik untuk remaja, dan akhirnya ada aneka bumbu, aditif makanan, minuman ringan dan makanan siap saji dalam kemasan maupun gerai cepat saji. Pesannya sederhana, keluarga moderen adalah keluarga yang membeli makanan atau bahan makanan sesuai dengan iklan tersebut.

Persiapan memask

Maka, kita membiarkan urusan makan ditentukan oleh pasar saat keluarga berhenti atau jarang memasak. Tuntutan ekonomi dan kepraktisan membuat banyak keluarga, terutama di perkotaan dan sub-urban meninggalkan kegiatan memasak. Dan memang itulah yang diinginkan oleh industri makanan. Padahal memasak adalah ketrampilan dasar yang seyogianya dimiliki oleh setiap anggota keluarga, dan diterapkan secara bersama.

Jika setiap warga negara berdaulat di dapurnya, maka negeri itu merdeka secara keseluruhan dan dari segala arti, aspek, sisi, dan sudut pandang. Kawan, teman, saudara, handai taulan mari kita merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Dan memasakan bukanlah rahan kaum ibu saja, tapi merupakan ketrampilan bertahan hidup bagi semua manusia. Marilah keluarga Indonesia, kita rebut kembali bahan bakar, bahan baku pangan, rasa dan kesehatan serta ketrampilan memasak. MERDEKA !!

Sumber data:
  1. 71 Persen orang Indonesia tak dapat akses air bersih. Oleh Fitri Syarifah, www.liputan6.com 27 Agustus 2015.
  2. Negara belum Siap Kelola Air. Pengusaha Minta Kepastian Hukum dari Pemerintah. Kompas 3 Maret 2015.
  3. RI Impor Garam dari Singapura, India, Hingga Australia. Maikel Jefriando, DetikFinance 19 April 2016.
  4. Institute for Essential Services Reform (IESR), 2015. Pertemuan NGO/CSO Indonesia untuk Mendorong Implementasi Sustainable Energy for All (SE4ALL). Laporan Workshop, 9 Juli 2015.

 

 

 

2 thoughts on “Memerdekakan Dapur dan Piring Makan”

  1. Terimakasih ibu Hira Jamtani saya sangat setuju tulisan anda ini. Bahwa doktrin televisi merubah asumsi kita2 para ibu di desa2 hingga perkotaan.
    Sayapun prihatin ketika pulang ke desa melihat Bulek saya beli air isi ulang atau air mineral galonan, padahal air di desa kami masih segar jauh dari kontaminasi industri.

    Saya yg tinggal Sidoarjo yg notabene dekat kota metropolis Surabaya masih merebus air untuk minum dan alhamdulilah anak saya sehat jarang diare. Kalo anak saya panas sayapun masih pakai kunir untuk “dipiliskan” di dahi, dan kalo kembung pake daun jarak. Sementara di desa pake “bye bye fafer” (maunya gak sebut merek hehehe). Terimakasih bu tulisan ibu saya merasa dikuatkan untuk mencintai negri saya yg kaya raya. Salam bebas berpikir!

Tinggalkan Balasan ke Hira Jhamtani Batalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *