Dr. Budi: Main Pokemon, Rumah tanpa WC?


Kategory : Categories featured, Orang-orang, Pembangunan berkelanjutan dan Globalisasi
Posted on

Pernah dengar gerakan jalan kaki alias long march untuk toilet alias WC? Atau Cafe Jamban di Semarang? Inilah ulah Budi Laksono, seorang dokter yang sangat peduli dengan isu sanitasi terutama akses pada WC.

Sedemikian gigih dokter ini, sampai rela jalan kaki ratusan kilometer untuk kampanye jamban sehingga ia sering dijuluki sebagai “dokter jamban”. Mengapakah seorang dokter bersedia jalan kaki dari Semarang ke Jakarta untuk sekedar toilet? Agustus lalu Bebas Pikir mewawancari beliau melalui surat elektronik. Berikut ini adalah ceritanya, dilengkapi dengan informasi dari beberapa media lain.

Kerugian 57 Triliun

Kenapa WC perlu dikampanyekan? Banyak di antara kita mungkin pernah mengalami kesulitan mencari toilet yang layak ketika dalam perjalanan, atau menemukan toilet yang tidak layak saat berada di rumah makan, gedung pemerintah bahkan sekolah dan tempat ibadah. Sekarang kita bayangkan, di seluruh dunia 2,5 milyar orang tidak punya akses pada toilet dan sistem pembuangan limbah. Satu juta anak meninggal setiap tahun akibat diare, jumlah itu setara dengan gabungan jumlah manusia yang meninggal akibat AIDS, campak dan malaria, demikian menurut PBB. Sementara di Indonesia, 63 juta orang terbiasa buang hajat di tempat terbuka karena mereka tidak punya akses ke fasililitas sanitasi dasar (Indonesia Tuan Rumah KTT Toilet Dunia http://www.dw.com 03/10/2013).

Walaupun sudah 71 tahun merdeka, sekitar 26 juta keluarga di Indonesia belum punya jamban keluarga, kata dr. Budi. Indonesia menduduki peringkat paling rendah di ASEAN untuk akses pada sanitasi terutama jamban, dan di tingkat dunia hanya satu peringkat di atas Ghana. Hal ini merupakan penyebab nomor satu orang masuk rumah sakit di pedesaan, dimana sekitar 160,000 orang meninggal setiap tahun. Kotoran manusia mengandung patogen yaitu organisme penyebab penyakit. Bila ada tiga rumah saja di suatu kampung yang tidak punya jamban, maka dengan bantuan lalat, sudah cukup untuk membuat keluarga lain di kampung itu sakit.

Grafik Keluarga tanpa WC di ASEAN. Sumber: Dr. Budi Laksono
Grafik Keluarga tanpa WC di ASEAN. Sumber: Dr. Budi Laksono

Menurut penelitian ekonomi kesehatan yang dilakukan WHO, kerugian setiap tahun mencapai Rp. 57 triliun dalam bentuk kehilangan produktivitas kerja secara langsung karena sakit diare, tipus dan disentri, bahkan Hepatitis A, dan biaya kesehatan ketika terserang penyakit. (Di Kutip dari pesan Ahmad Baharuddin dalam WA Desa Mandiri Tanpa Korupsi, 18 Desember 2016). Jadi persoalan jamban ini lumayan serius.

Satu Juta Jamban

Kepedulian tentang sanitasi muncul dalam benak dr. Budi sejak masih bertugas di Puskesmas pada akhir 1990an. Pria yang tinggal di Semarang dan meraih gelar Doktor bidang Kesehatan Lingkungan di Universitas Diponegoro ini, menemukan bahwa banyak warga belum mempunyai jamban sendiri; mereka buang air besar di kebun, sungai, bahkan di bungkus dalam plastik. Hal ini memicu penyebaran berbagai infeksi pencernaan.

Dr. Budi Laksono alias dokter Jamban. Sumber Facebook Budi Laksono
Dr. Budi Laksono alias dokter Jamban. Sumber Facebook Budi Laksono

Maka sejak 2004, dr. Budi melakukan kampanye toilet atau jambanisasi. Bersama TNI AD dan pemerintah kota Semarang, sudah dibangun sekitar 170,000 ribu jamban. Tapi masalah ini dialami oleh seluruh Indonesia. Sanitasi yang terjangkau termasuk salah satu target dari Millenium Development Goals (MDGs) dan pemerintah sudah mempunyai Keputusan Presiden untuk melakukan Jambanisasi. Anggran dalam angka trilyun sudah digelontorkan tapi hasilnya belum menggembirakan. Padahal menurut dr. Budi, membangun jamban bisa dengan gotong royong, asalkan para pemimpin (Bupati, Gubernur, Presiden) mau memimpin gerakan. Setiap desa dan keluarga mempunyai potensi terpendam, tinggal dihidupkan maka proses jambanisasi bisa berhasil.

Menilik hal tersebut, Dr. Budi kemudian mengembangkan proses yang disebut Hypnolatrine, yaitu sesi penyuluhan dan penyadaran bagi masyarakat sehingga mereka mengambil inisiatif untuk memfasilitasi pembangunan jamban swadaya oleh masyarakat. Melalui Yayasan Wahana Bakti Sejahtera (WBS) yang diketuainya, bersama Universitas Griffith dari Australia, program jambanisasi diluncurkan di Semarang dan Jawa Tengah. Targetnya tidak tanggung-tanggung, yaitu membangun 1 juta jamban, yang dilakukan masyarakat, dengan kesadaran sendiri. Cita-cita beliau adalah Indonesia mencapai tahap ODF (open Defecation Free – Bebas dari buang air besar di ruang terbuka) dalam beberapa tahun mendatang.

Jalan Kaki WC4ALL dan Cafe Jamban

Pada tanggal 1 Agustus 2016, Dr Budi dengan rombongan sekitar 10 orang aktivis lingkungan, sosial dan kesehatan, berjalan kaki dari Semarang ke Jakata untuk mengkampanyekan WC4ALL (jamban untuk semua orang). Kampanye ini sudah digagas beberapa tahun lalu. Pada awalnya, terpikir untuk melakukan kampanye tentang sanitasi menggunakan mobil tenaga surya. Mobil sudah ada, sudah dibuatkan casis dan body. Tinggal cari panel surya dan aki penyimpan serta penggerak motor. Karena tidak mampu beli panel dan aki, mobil akhirnya rusak.

Lalu ada teman yang mengajak kampanye dengan jalan kaki, kata dr. Budi. Setelah dipertimbangkan dan mengukur kemampuan akhirnya disepakati menggunakan jalan kaki sebagai kampanye untuk penyadaran pentingnya sanitasi. Rombongan berhenti setiap sore di kabupaten, kota atau desa tertentu. Mereka kemudian bertemu dengan masyarakat, atau pemerintah daerah, lembaga keagamaan setempat, dan aktivis lokal untuk berbagi penyadaran tentang arti penting jamban.

Rombongan tiba pada tanggal 13 Agustus di Jakarta. Mereka bertemu gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama dan staf Kepresidenan. Karena kampanye ini, rombongan juga diundang ke istana negara untuk peringatan hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2016. Memang sangat simbolik bahwa kin masyarakat perlu dibebaskan dari penyakit, salah satunya dengan akses pada jamban yang sehat.

Karya dr. Budi lainnya yang fenomenal adalah membangun dan mengoperasikan Cafe Jamban di Semarang. Sesuai namanya, Cafe ini bernuansa toilet. Pengunjung disuguhi makanan dalam wadah kakus, dan kursi berupa jamban duduk. Sebuah eksperimen yang kreatif dan berani.

Kata dr. Budi, Cafe Jamban didedikasikan untuk mendorong kepedulian kita semua bahwa WC adalah hal yang penting dan bukan yang harus dikerjakan belakangan. Kenyataannya, 30% orang di sekitar kita tidak punya WC. Kotorannya mencemari lingkungan dan menyebarkan penyakit. “Nah di Cafe ini, makanan dijamin bersih, tidak seperti di tempat lain yang tercemar lalat dan debu. Pengunjung di Cafe ini biasanya diberi pemahaman dulu. Bahkan ada rombongan pengunjung yang datang khusus untuk mendapatkan informasi atau membawa rombongan untuk diberi pemahaman” lanjut dr. Budi. Ini dia suasananya.

Dr. Budi Laksono di CAfe jamban. Sumber: Facebook Cafe Jamban
Dr. Budi Laksono di CAfe jamban. Sumber: Facebook Cafe Jamban

Cerita tentang Cafe Jamban sudah menyebar di media sosial, setelah dibagikan akun Facebook KICK ANDY SHOW, bulan Juni 2016. Sekitar enam jam setelah dikirimkan, kiriman tentang Cafe Jamban itu telah dibagikan (shared) lebih dari 10 ribu kali. Walaupun demikian ada banyak pula yang merasa jijik dan memprotes keberadaan Cafe Jamban ini. Bagi yang tertarik silakan mengunjunginya di Jalan Untung Suropati No 445, Semarang. (https://www.facebook.com › Places › Semarang, Indonesia; http://indonesia.coconuts.co/profile/Coconuts%20Indonesia Cafe Jamban: Kafe bernuansa toilet di Semarang dengan semangat kepedulian sosial 28 Juni 2016 )

Perubahan Perilaku dan Kewajiban Pemerintah

Pernahkah anda berkunjung ke rumah di sebuah desa dan memperhatikan WCnya? Ini pengalaman saya. Di kawasan Indonesia Timur, kadang saya menemukan bangunan gereja yang kokoh dan lumayan bagus, tapi masyarakatnya tidak punya jamban. Di Jawa di desa pelosok, anda bisa menemukan rumah beberapa keluarga yang mewah, dibangun dengan lantai keramik, ada kursi tamu lumayan mewah di ruang tamu, tapi cobalah tengok WCnya. Kadang mereka hanya punya kamar mandi, yang luas, tapi diisi macam-macam barang tanpa jamban. Padahal anak penghuni rumah sudah lulus SMA dan kadang bekerja di kota.

Saya bertanya kepada dr. Budi Mengapa? Beliau mengatakan bahwa perilaku masyarakat tergantung pada pengetahuan, persepsi dan lingkungan sosial serta fisik. “Riset kami menunjukkan bahwa hampir semua orang lulus SMA tidak tahu bahwa buang air besar sembarangan bisa menyebarkan penyakit,” katanya. Adalah sebuah ironi, katanya bahwa mereka yang lulus SMA tahu tentang teori pitagoras tapi tidak mempunyai pengetahuan dasar ketrampilan kehidupan. “Lingkungan mendukung perilaku termudah walau tidak sehat, misalnya keberadaan sungai, air mengalir, membuat mereka merasa buang air di sungai lebih bersih dan tuntas, tanpa tahu kotoran akan mencemari dan menularkan penyakit pada orang lain”.

Dan apa yang dilakukan Pemerintah dalam hal ini? Tujuan negara adalah mensejahterakan rakyatnya, kata dr. Budi. Untuk itu negara membayar petugas yang bertanggung jawab agar masyarakat mendapatkan akses pada pelayanan sanitasi dan kesehatan. Karena itulah, Soekarno membangun Puskesma, Suharto membangun jamban di setiap kelurahan. Tapi jamban yang dibangun tidak terpakai. Lalu pemerintah menyalahkan rakyat.

Masalahnya, menurut dr. Budi, membangun jamban tidak sama dengan mengubah perilaku. Biasanya pegawai pemerintah merasa sudah berhasil bekerja baik, bila sudah membangun tanpa memahami visi kenapa membangun jamban. Mereka meniru gaya Amerika dan Eropa yang membangun city Toilet. Jamban dibangun dengan tembok dan mewah menelan biaya jutaan rupiah, tapi bisa diakses hanya oleh 30 keluarga. Padahal di Indonesia jutaan orang memerlukan jamban.

Gerakan hypnolatrine dr. Budi telah menunjukkan bahwa jamban bisa dibangun hanya dengan biaya Rp. 350,000 dan didasarkan pada perubahan persepsi serta perilaku manusianya.

Gotong Royong dan Musyawarah

Pada 2016 PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) hanya berhasil membangun sekitar 64 ribu unit jamban dari 26 juta yang diperlukan. Artinya untuk mencapai cita-cita ODF diperlukan waktu 400 tahun!.

Padahal dr. Budi beserta timnya bisa membangun jamban hanya dengan subsidi 350 rp per unit. Kalau negara memberikan subsidi per rumah 350 ribu x 26 juta maka biaya yang diperlukan hanya Rp. 9, 1 triliun, jauh dibawah angka hitungan kerugian 57 trilun yang disebabkan masyarakat tidak mempunyai jamban.

Kuncinya adalah penyadaran, musyawarah dan gotong royong. Apabila masyarakat sadar bahwa jamban adalah salah satu alat menuju sehat, maka mereka yang mampu akan mau membangun sendiri, asalkan biaya terjangkau. Dan masyarakat desa hanya perlu diingatkan tentang gotong royong. Sebagai contoh, bila di sebuah kampung ada 10 rumah yang belum berjamban, dan dibutuhkan Rp. 450.000 per jamban, maka diperlukan 4,5 juta rupiah. Jika ada 90 keluarga mampu dikampung itu dan mereka mau menanggung biaya tersebut, maka masing-masing keluarga hanya mengeluarkan 50.000 rupiah saja. Jadi ODF bisa dicapai dalam waktu 1-2 tahun saja. Pikiran ini sungguh sederhana tapi cerdas dan bisa dilaksanakan.

Dr. Budi “jamban” bertekad meneruskan perjuangannya agar semua orang sadar akan arti sanitasi melalui kampanye WC4ALL Indonesia. Beliau menyampaikan dua pesan utama. Untuk pemerintah, tugasnya adalah mensejahterakan rakyat, salah satu dengan menciptakan lingkungan yang sehat. Adalah tugas pemerintah memberikan edukasi tentang sanitasi, membuat peraturan tentang kesehatan, dan memastikan bahwa dana yang terbatas digunakan secara efektif dan efisien, bukan sekedar sebar uang saja.

Kepada rakyat dan para pemuda, beliau berpesan “Jangan tunggu orang lain untuk menyehatkan kita. Kita harus jaga kesehatan kita sendiri. Masak hari gini BAB di sungai, masak rumah tanpa WC padahal mainnya pokemon”

“Kami ingin semua orang di dunia, terutama di negara berkembang mempunyai jamban sebagai dasar kemerdekaan dan hak merdekanya” pesan dr. Budi. Sungguh persoalan akses pada jamban juga adalah tentang kemerdekaan!!

Dr. Budi Laksono bisa dihubungi melalui https://www.facebook.com/dokter.budi.92. Cafe Jamban bisa diakses di https://www.facebook.com/pages/Cafe-Jamban/385756104799109?fref=ts.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *