Jogja 3: Kulon Progo Tanpa Iklan Rokok


Kategory : Categories Jalan-jalan, Orang-orang, Pembangunan berkelanjutan dan Globalisasi
Posted on

Kepedulian pada kesehatan membuat Hasto Wardoyo, Bupati Kulon Progo,  memutuskan tidak memperbolehkan bill board iklan rokok di Kabupaten ini. Ada juga Toko Milik Rakyat. Apa pula itu?

Jogja 3: KULON PROGO TANPA IKLAN ROKOK

Bagian terakhir dari tiga tulisan. Baca juga:

https://bebaspikir.com/2017/05/jogja-transjogja-musisi-di-jalan-dan-tungku-hemat-energi/ .

Jogja 2: Bumi Langit dan Pasar Kamisan

Serasa tidak percaya ketika seorang teman mengatakan bahwa tidak ada iklan rokok di Kabupaten Kulon Progo, Jogjakarta. Sempatkan datang ke Kulon Progo, bila anda sedang di Jogja untuk membuktikan hal tersebut. Jangan heran, bupatinya adalah seorang dokter dan baru saja terpilih kembali pada Pemilihan Kepala Daerah 2017 ini. Kami berkesempatan bertemu Bupati Hasto Wardoyo sebagai bagian dari rangkaian lokakarya tentang energi terbarukan di Jogja, Maret 2017 lalu.

Perjalanan ke Wates, ibukota Kabupaten Kulonprogro kami tempuh dalam waktu sekitar 45 menit dari pusat kota Jogja.  Hanya saja tidak jelas dimana harus menemui Pak Hasto. Beliau baru saja terpilih kembali sebagai Bupati namun belum dilantik. Jadi pertemuan tidak diadakan di kantor maupun rumah dinas Bupati, tapi di rumah pribadi beliau. Dalam proses menentukan tempat pertemuan ini, saya sempat melihat-lihat alun-alun kota Wates, dan ya tidak ada papan iklan rokok yang biasa menghiasi hampir semua kota di Indonesia. Sedang ada keramaian di alun-alun, sepertinya ada pertandingan apa begitu. Saya lebih tertarik dengan rumah merpati yang sudah lama sekali tidak pernah saya lihat di perkotaan. Wah, senang ketemu rumah merpati seperti ini.

 

rumah-merpati-alun2-kulonprogo
Rumah Merpati di Alun-alun Kulon Progo

Akhirnya kami tiba di rumah pribadi pak Hasto yang ternyata merangkap jadi suatu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kami disuguhi air minum dalam kemasan merek AIRKU dan ini ada ceritanya. Hasto Wardoyo adalah seorang dokter yang juga berhasil menjadi pemimpin daerah. Kami diperkenalkan pada beberapa inovasinya dalam membangun Kulon Progo. Uraian berikut ini berasal dari cerita beliau diperkuat beberapa sumber informasi internet ( misalnya http://www.boombastis.com/bupati-hebat-kulon-progo/51156)

 

Landasan utamanya tercermin dari programnya sejak beliau menjabat jadi Bupati pada 2012 yaitu Bela dan Beli Kulon Progo. Sepertinya dasarnya adalah agar masyarakat membela produk Kulon Progo dengan membelinya. Kalau biasanya hal seperti ini jadi gerakan dalam slogan saja, Hasto membumikannya dengan meletakkan ketentuan-ketentuan yang sangat logis.

Sebagai contoh, Kulon Progo mempunyai batik khasnya yaitu Geblek Renteng. Tapi batik ini tidak setenar batik Yogyakarta dan Solo. Agar batik ini berkembang, Hasto mewajibkan para pegawai negeri dan siswa di Kulon Progo untuk memakai batik Geblek Renteng pada hari-hari tertentu dalam seminggunya. Hasilnya? Para pengrajin batik dibanjiri pesanan dan roda ekonominya berputar.

 

Bupati Hasto Wardoyo sedang berbicang tentang Kulon Progo
Bupati Hasto Wardoyo sedang berbicang tentang Kulon Progo

Kulon Progo adalah salah satu pusat produksi beras. Seperti diketahui, petani beras selalu mengeluh tentang harga gabah yang rendah. Mereka kerap menjual beras untuk kemudian mendapatkan jatah raskin yang mutu berasnya biasanya rendah. Sekali lagi, Hasto menghadirkan negara untuk menangani hal ini. Dia mewajibkan mewajibkan para PNS yang jumlahnya hampir 8 ribu untuk membeli padi produksi petani lokal, 10 kilogram setiap bulan. Hasilnya, pertanian Kabupaten Kulon Progo berkembang lebih baik. Bahkan Hasto meminta agar program Raskin Bulog di Kulon Progo menggunakan padi hasil masyarakat Kulon Progo sendiri. Ketika kami tanyakan apakah ada pangan non beras yang dikembangkan, beliau mengatakan memang belum. Tapi sedang dipikirkan. “Saya sendiri sudah lima tahun tidak makan nasi. Saya makan ubi-ubian” katanya. Wah keren ini.

Berikutnya adalah air minum. Air belimpah di kabupaten ini. Maka Hasto mendirikan Perusahaan Daerah Air Minum untuk menjami pelayanan air bersih bagi warganya. Selain itu, Pemerintah Daerah mendirikan perusahaan air dalam kemasan dengan merek AIRKU untuk menghasilkan pendapatan daerah. Menurut informasi di media sosial, AIRKU kini menguasai seperempat dari pangsa pasar air minum dalam kemasan di kabupaten ini dan menjadi salah satu sumber pendapatan yang bisa diandalkan oleh Pemerintah Daerah.

Selanjutnya, sudah lama Hasto menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kulon Progo. Warga yang sakit, tanpa pandang bulu, mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa biaya hingga nilai mencapai Rp. 5 juta per orang. Pelayanan kesehatan juga diberlakukan tanpa membedakan kelasnya. Jadi rakyat tidak mampu juga bisa dilayani di kelas I dan VIP apabila kamar kelas III sedang penuh. Kepedulian pada kesehatan pula yang membuat Hasto memutuskan tidak memperbolehkan bill board iklan rokok di Kabupaten ini, sebuah prestasi kebijakan kesehatan yang luar biasa bijak.

Bagaimana dengan ekonomi eceran? Ini lagi yang super keren. Di Kulon Progo akan menemukan toko seperti di foto berikut ini, namanya TOMIRA alisa Toko Milik Rakyat.

Toko Milik Rakyat -- konsep toko modern di pedesaan
Toko Milik Rakyat — konsep toko modern di pedesaan

 

Ceritanya begini. Menurut Hasto, dia ingin memajukan ekonomi perdagangan lokal. Jadi waralaba Indomart dan Alfamart dilarang beroperasi dalam radius tertentu pasar tradisional dan daerah yang banyak warung masyarakat serta pertokoan kecil. “Tapi saya juga ingin masyarakat punya toko sendiri yang modern”, katanya. Maka dibuatlah peraturan, toko-toko tersebut bisa dibuka apabila mau bermitra dengan koperasi setempat. TOMIRA harus menampung produk UKM setempat dan mempekerjakan anggota koperasi setempat juga. Maka jadilah AlfaMart dan IndoMart bermetamorfosis menjadi TOMIRA. Sebuah jalan tengah yang keren, menurut saya.

Dengan prestasi seperti itu, tidak sulit bagi rombongan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk memperkenalkan dan membahas penggunaan energi terbarukan pada tingkat rumah tangga. Tungku dengan bahan bakar kayu sudah diperkenalkan dan sepertinya bisa ditindaklanjuti nantinya.

Hasto Wardoyo, berkarya tanpa banyak disorot media. Tapi yang dia lakukan setara dengan yang dilakukan Ahok di Jakarta, Ridwan Kamil di Bandung dan Risma di Surabaya. Indonesia memerlukan pemimpin daerah yang inovatif dan kerja keras seperti mereka ini. Kulon Progo memang kecil dan kurang jadi perhatian khalayak, tapi karya Hasto beserta masyarakat Kulon Progo bisa menjadi fenomena nasional, jika kita sepakat memilih pemimpin yang bersih, jujur, kerja keras dan inovatif, dan memahami kebhinekaan Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *