SANSKERTA I : Belajar Bahasa Dewa Cara Mudah


Kategory : Categories Alam dan Hidup, featured, Rasa dan Bebas Pikir, Uncategorized
Posted on

 

Arti seorang pedagang biasa-biasa saja, sudah biasa menggunakan bahasa “para dewa” (demikian dia menyebut Bahasa Sanskerta)  dalam percakapan sehari-hari.

Sanskerta I:

Belajar Bahasa Dewa Cara Mudah

(Bagian satu dari tiga tulisan tentang upaya pengembangan Bahasa Sanskerta di Bali)

Ni Made Tiniarti,  menawarkan dagangannya, dengan menggunakan bahasa Sanskerta, kepada dua pembeli perempuan. Setelah berdiskusi tentang warna dan harga, seorang perempuan bernama Suartini membeli sehelai kain. Ketut Juli, pembeli  yang lain, mengatakan dia menyukai sehelai selendang tapi uangnya tidak cukup. Lalu Arti, panggilan akrab gadis ini, memberikannya dengan menerima pembayaran seadanya. Sandiwara mini tersebut dimainkan dalam acara ‘Sehari Berbahasa Sanskerta” tanggal 27 Agustus 2017 di Denpasar Bali. Selain untuk latihan bercakap-cakap, ada pesan tentang kemanusiaan yang tersirat di dalamnya.

Dalam keseharian, Arti memang adalah seorang pedagang biasa-biasa saja, yang menjual pakaian di dekat Pasar Sukawati, Gianyar, Bali. Ia punya tekad yang kuat belajar bahasa Sanskerta. Kini dia sudah biasa menggunakan bahasa “para dewa” (demikian dia menyebut Bahasa Sanskerta) itu dalam percakapan sehari-hari dengan rekan-rekannya sesama murid bahasa Sanskerta.

Berlatih bahasa Sanskerta melalui sandiwara mini
Berlatih bahasa Sanskerta melalui sandiwara mini

Mengapa belajar bahasa Sanskerta? Bukankah itu bahasa yang sulit dan sudah “mati”? Mungkin demikian anda bertanya. Itu pula pertanyaan saya kepada Made Tiniarti. Ia mengatakan bahwa Sanskerta adalah bahasa yang digunakan dalam kitab suci Veda dan Bhagavad Gita. Ia ingin bisa memahami kitab suci dengan lebih baik. Dia ingin belajar bahasa itu sejak sepuluh tahun yang lalu. Namun baru pada Mei 2016 ia mengikuti kursus percakapan Bahasa Sanskerta selama 10 hari. Setelah itu ada pertemuan seminggu sekali untuk berlatih bercakap-cakap dan meningkatkan tahap demi tahap pengetahuan tentang Bahasa Sanskerta. Kini Arti tidak hanya bisa berbicara tapi juga mulai bisa menulis dan membaca menggunakan aksara Devanagari, huruf kuno yang dianggap sulit dipelajari.

Arti merasa mendapat lebih dari sekedar pengetahuan tentang bahasa Sanskerta. “Pikiran saya menjadi tenang dan damai, bisa fokus ke diri sendiri dan hidup seolah diarahkan ke hal-hal yang baik” katanya. Selain itu ia juga mendapatkan “keluarga baru”. “Ada ikatan kasih di antara para peserta dan dengan para guru”, katanya.

Hal senada dinyatakan Ketut Juli. “Dulu saya tidak tahu kalau Sanskerta bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Setelah mengikuti kursus 10 hari, ternyata saya bisa bercakap-cakap dalam bahasa Sanskerta”, katanya. Ia mengatakan cara belajar yang informal, membuatnya lebih santai dan tidak mengejar target. Beberapa waktu lalu ia pergi ke Chennai, India dengan beberapa teman dari Bali (termasuk Arti) untuk belajar percakapan Sanskerta juga selama 10 hari. Disana belajar dalam kelompok. Pada setiap kelompok hanya ada satu orang peserta Bali. Pertama mereka agak ragu bagaimana akan berkomunikasi dengan anggota kelompok yang lain. Tapi dalam beberapa hari mereka sudah mendapatkan teman baru, bicara dalam bahasa sanskerta dan seperti punya keluarga baru.

Juli ingin memahami Bahasa Sanskerta agar bisa membaca dan memahami pustaka suci seperti Bhagavad Gita. “Setelah mulai belajar Sanskerta dengan perlahan-lahan, saya lihat susunan bahasa Sanskerta amat indah. Memahami artinya seperti diberikan tuntutan hidup yang seimbang antara kehidupan duniawi dengan kehidupan spiritual”. Juli menambahkan, intinya dia senang belajar bahasa Sanskerta. Kedua perempuan ini, bersama seorang teman lainnya, kini terlibat dalam berbagai acara pelatihan Bahasa Sanskerta sebagai relawati.

Kedua perempuan ini, bersama seorang teman lainnya, kini terlibat dalam berbagai acara pelatihan Bahasa Sanskerta sebagai relawati, sambil tetap belajar untuk meningkatkan ketrampilan dalam berbahasa Sanskerta.

Ketut Juli membantu Guru Bahasa Sanskerta memperagakan beberapa gerakan
Ketut Juli membantu Guru Bahasa Sanskerta memperagakan beberapa gerakan

Anda penasaran? Baiklah saya bercerita tentang kursus berbahasa Sanskerta ini. Pada Desember 2016 lalu saya menjadi murid kursus pelatihan Bahasa Sanskerta ini selama 10 hari, belajar dua jam per hari. Dan yang dikatakan Arti serta Juli benar adanya, belajar bahasa Sanskerta ini menampilkan hal-hal yang menarik. Buat saya yang paling menarik adalah metodenya. Saat masuk ke ruang kelas, (waktu itu “kelas” adalah ruang tamu konsulat Jenderal India di Bali), ada sebuah meja penuh dengan barang sehari-hari dan mainan seperti dalam foto ini. Ada mobil dan bus mainan, ada sikat gigi, ember dan piring plastik. Dan ada banyak foto lelaki dan perempuan di gantung.

Media Belajar Bahasa Sanskerta
Media Belajar Bahasa Sanskerta

Bapak Sumesh Soman, dosen bahasa Sanskerta di Insititut Hindu Dharma Nusantara di Denpasar., adalah pengajarnya. Dia menggunakan barang-barang di meja dan foto sebagai media belajar. Selanjutnya, dia meminta kami tidak mengeluarkan alat tulis. “Kita akan belajar berbicara bahasa Sanskerta” katanya. Jadi tidak usah menulis. Sebagai gantinya diberikan selembar kertas berisi daftar kata dan teks beberapa lagu.

Pelajaran dimulai dengan menyanyi. Pak Sumesh melantunkan satu baris dan kami mengikutinya. Kami tidak tahu artinya dan apakah pengucapannya benar, tapi itu tidak jadi masalah. Inilah latihan pertama berbicara Bahasa Sanskerta. Dan setelah itu dia mengajarkan berbicara. Selama dua jam itu, dia jarang sekali menggunakan bahasa Indonesia. Semua pertanyaan dijawab dengan bahasa Sanskerta dan menggunakan media belajar berupa barang dan gambar dan bahasa tubuh. Di tengah pelajaran, kembali diajak bernyanyi. Dan di akhir pelajaran setiap harinya, ada sebuah kisah yang diceritakan dalam bahasa Sanskerta, menggunakan gambar dan gerakan tubuh untuk menyampaikan arti dari kalimat-kalimat yang dia utarakan. Cerita pendek setiap hari berasal dari cerita kuno yang mengandung pesan budi pekerti universal.

Cara belajar yang digunakan adalah mengulang-ulang kata dan kalimat dan pertanyaan sehingga para peserta bisa hafal. Gurunya selalu tersenyum dan mendorong setiap orang berlatih bercakap-cakap. Seperti foto berikut ini.

img-20170715-wa0014
Guru mengajar sambil tersenyum di Klungkung

Di hari keempat, saya sudah bisa merangkai kalimat dengan kata-kata sederhana dan di hari kesembilan para peserta diminta bercerita atau membuat percakapan dalam bahasa Sanskerta. Ya, dalam sepuluh hari, bila anda konsentrasi, bisa mulai bicara bahasa Sanskerta!

Apa manfaatnya belajar bahasa Sanskerta? Bukankah itu bahasa milik orang India saja? Ternyata sekarang bahasa Sanskerta diajarkan di beberapa sekolah di Eropa. Lihat misalnya http://www.samskritbookfair.org/archives/914.

Warwick Jessop, kepala Departemen Sanskrit di sekolah St James’ mengatakan bahwa Bahasa Sanskerta mempunyai sistem suara dan tata bahasa yang sempurna, sehingga memberikan dasar yang baik bagi anak untuk belajar bahasa lain. Anak-anak suka dengan keindahan suara yang ditimbulkannya. Bahasa ini didasarkan pada suara dan mempertajam kemampuan kita mendengar. Dan jika bisa bahasa Sanskerta maka khasanah sastra yang luas terbuka bagi anak-anak. (Baca juga Guru Ganteng Mengajar Bahasa Dewa).

Buat saya belajar Bahasa Sanskerta membantu saya memfokuskan ingatan karena kita tidak hanya menghafal kata tapi juga struktur kalimat. Saya mengatakan kepada teman-teman saya yang juga berusia di atas 50 tahun, bila kita tidak ingin pikun maka mari belajar bahasa kuno seperti Sanskerta, Jepang, China atau Rusia. Otak kita akan selalu diasah dan itu mengurangi degradasi fungsi otak karena usia.

Saya memutuskan belajar bahasa Sanskerta karena saya menyukai lantunan kata-katanya dan suara yang ditimbulkannya. Setelah belajar, bahasa ini ternyata memang mempunyai ritme yang harmonis. Misalnya sundaram pushpam (bunga yang cantik) tapi sundari yuvati (remaja putri yang cantik). Kata cantik atau indah berubah bentuk dan mengharmoniskan dengan suara yang ditimbulkan oleh subyek — akhiran am bila subyek berakhiran am, demikian pula berakhiran i untuk kata yang sesuai.  Selain itu kita menggunakan seluruh lidah dan tenggorokan untuk mengucapkan huruf, kata dan kalimat dalam bahasa Sanskerta.

Yang terakhir, kursus bahasa Sanskerta ini tidak dipungut biaya. Karena itu ada banyak relawan dan relawati. Tempat disediakan oleh orang-orang atau kelompok atau institusi. Misalnya kelas yang saya hadiri diadakan di Konsulat India, di Denpasar, Bali. Ada pula kelas yang diadakan di dalam halaman Pura, seperti yang di Klungkung. Lalu ada yang diadakan di rumah orang yang menyediakan ruang secara sukarela,  seperti terlihat dalam foto berikut. Para guru mengajar dengan sukarela pula. Pertemuan satu minggu satu kali, biasanya ada saja peserta yang membawa kudapan. Semuanya serba “melayani diri sendiri dan melayani orang lain”.

Suasana kelas Sanskerta di Rumah Sira Empu Yoga Sugata.
Suasana kelas Sanskerta di Rumah Sira Empu Dharma Agni Yoga Sogata, di Batubulan, Sukawati, Gianyar Bali.

 

Suasana kelas di halaman Pura Jaganatha, Klungkung
Suasana kelas di halaman Pura Jaganatha, Klungkung

Seperti yang dikatakan Arti dan Juli, belajar bahasa Sanskerta mempunyai dampak sampingan yang baik, yaitu menjalin keluarga baru, dalam semangat kerelawanan dan kebersamaan. Hal ini sesuai dengan salah satu kalimat bijak dari peradaban India yaitu Vasudaiva Kutumbakam yang artinya seluruh dunia ini adalah sebuah keluarga!

Baca juga Sanskerta II: Guru Ganteng Mengajar Bahasa Dewa.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *