Dialog Dua Gunung Berapi


Kategory : Categories Alam dan Hidup, featured, Rasa dan Bebas Pikir
Posted on

Pada pagi hari yang cerah itu, Gunung Semeru berniat menyapa rekannya Gunung Agung yang ada di Pulau Bali. Gunung Semeru mendengar kabar bahwa Gunung Agung sedang berbatuk-batuk dan bergetar, mungkin siap mengalirkan lahar keluar dari tubuhnya.

DIALOG DUA GUNUNG BERAPI

Pada pagi hari yang cerah itu, Gunung Semeru berniat menyapa rekannya Gunung Agung yang ada di Pulau Bali. Gunung Semeru mendengar kabar bahwa Gunung Agung sedang berbatuk-batuk dan bergetar, mungkin siap mengalirkan lahar keluar dari tubuhnya. Sudah lebih dari 50 tahun Gunung Agung tidak memuntahkan laharnya. Maka berlangsunglah dialog antara kedua gunung berapi ini.

Gunung Semeru (GS): Salam pagi yang hangat temanku Gunung Agung. Aku dengar kamu sedang batuk-batuk ya.

Gunung Agung (GA): Salam pagi yang hangat juga temanku Gunung Semeru. Bagaimana kondisimu? Ah iya aku batuk, karena sudah saatnya magma aku keluarkan dari perutku. Sudah penuh ini.

GS: Aku baik-baik saja. Beberapa waktu yang lalu, juga agak batuk. Aku mendengar banyak orang membicarakanmu. Ada yang mengatakan kau sedang marah. Ada yang mengatakan kau membawa pertanda buruk bagi perkembangan sosial-politik di Indonesia. Para manusia juga khawatir bahwa kau akan mencederai mereka. Apakah kau tidak sakit kepala mendengarnya?

GA: Ha ha ha. Itu hal yang biasa, bahkan dijaman millenial ini. Mereka diberi otak yang paling berkembang di antara makhluk hidup, tapi sepertinya kadang tidak digunakan ya. Aku cuek saja dengan semua hal itu. Adalah swadharma (tugas mulia/sifat dasar) dari gunung berapi seperti kita untuk meletus. Apapun yang mereka katakan, bila magma sudah penuh dan tekanan kuat, maka aku harus meletus. Bukankah demikian, kawan?

GS: Betul itu. Tapi terkadang saya merasa bersalah, bagaimana kita sebagai gunung berapi ini mencederai manusia. Mengapakah kita diberi swadharma untuk meletus?

GA: ho ho ho kamu kok jadi melankolik begitu Semeru?. Gunung megah dan sudah tua sepertimu justru dipuja manusia. Dan kita juga bermanfaat untuk mereka. Coba itu orang berduyun-duyun ke Gunung Bromo dan Ijen, saudara sekandungmu. Mereka menikmati naik gunung, pemandangan dan entah apa lagi. Demikian pula mereka mendatangi saya dan dua saudaraku si Batur dan si Batukaru untuk melihat pemandangan, mandi air panas atau sekedar melihat panorama kami. Banyak orang dari luar Indonesia yang takjub dengan jumlah dan keindahan gunung berapi di negeri ini. Berapa coba manusia dapat uang dan kenyamanan dari keberadaan kami?

Belum lagi mereka dapat manfaat dengan mandi air panas yang mengandung belerang dari perut kami. Segala penyakit kulit bisa diobati. Indonesia subur, juga karena abu vulkanik yang kita muntahkan. Lalu mereka menjadi kaya dengan menambang pasir dan batuan lain yang juga berasal dari kami. Ada lagi potensi energi panas kita untuk membangkitkan listrik, agar mereka bisa melihat televisi dan membuat film untuk dimasukkan ke Youtube.

Kalau kadang kami batuk dan meletus, itu hukum alam kan. Kok kamu jadi bingung Semeru, ada apakah?

Semeru diam beberapa saat.

 

Gunung Semeru: Gunung berapi adalah karunia alam
Gunung Semeru: Gunung berapi adalah karunia alam

GA: Ohoy Semeru ada apakah? Kok kamu jadi terdiam.

GS (dengan suara lirih): Aku ingat ketika teman-teman kita meletus seperti Kelud dan Tambora dulu itu dan banyak korban manusianya. Tapi kalau swadharma kita adalah meletus, maka kita hanya menjalankan tugas kita sebagai bagian dari alam. Lalu mengapa manusia menuduh kami sebagai “pembunuh”?. Padahal sepertinya, perang antar mereka, kecelakaan di jalan raya mereka, dan pertikaian sosial antar kelompok mereka membunuh lebih banyak orang ya. Ada yang harus mengungsi dan tidak bisa kembali. Itulah bencana, menurutku. Bukankah begitu Agung?

GA: Betul betul itu.

GS: Tapi tetap saja aku masih gundah. Kalau kita hanya menjalankan tugas alami kita, mengapa juga tetap mencederai manusia?

GA: oh oh kamu mulai lagi bingung Semeru. Begini ya, para manusia itu kan makhluk pintar-pintar. Sekolahnya saja selama 15 tahun. Mereka belajar tentang gunung berapi. Mereka punya alat yang bisa merekam kalau kita batuk-batuk. Kalau mereka bijak, maka sebenarnya daerah dekat gunung api itu tidak boleh dihuni manusia. Ya mereka bisa datang, melihat pemandangan, atau bahkan mendaki, dan cari kayu kalau ada. Tapi tidak bertempat tinggal di jarak tertentu dari kawah kita. Dalam bahasa manusia ada yang namanya ‘Tata Ruang’ begitu kira-kira. Mereka bisa buat jalan untuk magma yang kita keluarkan agar tidak merusak kampung. Kalau kita sedang tidak batuk, mereka lalai merawat jalur itu.

Mereka bermukim di tempat kita karena tidak punya tempat lain, karena mereka harus lari dari konflik atau apalah. Nah sekarang juga karena kerakusan. Semeru, tahukah kau, di lerengku, sempat ada pembicaraan mau dibuat lapangan golf. Kalau ada lapangan golf dan segala macam hotel dan fasilitas manusia lainnya, kemudian aku batuk, dan mereka harus mengungsi, maka bukan salahku ya. Kalau masyarakat di Bali banyak yang sadar itu. Lihatlah mereka bersiap-siap menyambut letusanku. Banyak yang menyediakan tempat untuk para pengungsi. Dan mereka tidak menghujat gunung api sebagai penyebab masalahnya.

Tapi, eh Semeru, yang akan meletus kan aku, mengapa kau yang galau?

GS: Ha ha . Iya juga. Tapi satu pertanyaan lagi bolehkah?

GA: Ada apa lagi?

GS: Kalau swadharma manusia apa ya?

Agung terdiam sebentar.

GA: Pertanyaanmu ada-ada saja Semeru. Manusia itu kan beda-beda ya, jadi swadharma juga berbeda. Tapi katanya sebagai kesatuan seluruh manusia swadharmanya adalah membuat kehidupan di alam semesta ini lebih baik. Jadi ya seharusnya merawat bagian alam yang lain seperti kita ini. Kan mereka yang punya otak untuk berpikir, ketrampilan berbahasa, punya emosi dan budi dan kepintaran. Begitu katanya. Sudah ya, pembicaraan ini berat, nanti aku bisa batuk-batuk lebih kuat pula. Ngomong-ngomong, kapan kau juga mau meletus Semeru?

GS: Nah kamu sekarang yang mengada-ada. Kalau meletus satu-satu ya, biar manusia tidak kerepotan. Kamu juga benar, manusia punya swadharmanya sendiri. Kami bukan pembunuh manusia. Merekalah yang mencari kesulitan untuk dirinya sendiri dan biarkan mereka melakukan swadharmanya sendiri. Terima kasih Agung. Nanti kalau kau sudah selesai meletus, kita berbincang lagi ya. Selamat menjalankan swadharmamu. Tugasnya gunung berapi adalah meletus.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *