Sanskerta II: Pemuda Ganteng Mengajar Bahasa Dewa


Kategory : Categories featured, Uncategorized
Posted on

“Saya ingin mengubah pandangan  bahwa Bahasa Sanskerta adalah bahasa yang sudah mati, bahasa yang tidak bisa digunakan untuk bercakap-cakap dan sulit dimengerti. Ini adalah bahasa yang sangat lengkap, dan tata bahasanya sederhana” I Made Danan Jaya. 

PEMUDA GANTENG MENGAJAR BAHASA DEWA

Di suatu sore, seorang pemuda menghentikan sepeda motornya di ujung sebuah jalan, di depan sebuah rumah, di Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali. Lalu ia masuk dan menyapa semua orang, sambil menuju ke sebuah ruangan paling ujung, di depan tempat bersembahyang. Kemudian ia mempersiapkan beberapa gambar dan alat lain, dan menunggu orang-orang lain datang.

Ada kelas belajar Bahasa Sanskerta di rumah itu setiap hari dua jam, selama 10 hari di bulan September 2017. Mungkin dia salah seorang murid? Wah ternyata, pemuda ganteng berusia 19 tahun ini adalah gurunya! Ini dia!

I Made Danan Jaya, guru Bahasa Sanskerta berusia 19 tahun
I Made Danan Jaya, guru Bahasa Sanskerta berusia 19 tahun

Pastinya belajar bahasa Sanskerta itu menarik, karena merupakan bahasa paling kuno di dunia. Hm apakah sulit belajar bahasa kuno ini? Kalau pemuda berusia 19 tahun bisa mengajarkan ‘Bahasa Dewa” (begitu beberapa orang menyebut Bahasa Sanskerta), mungkin ini bukan bahasa yang sulit. I Made Danan Jaya, mahasiswa semester lima di Insititut Seni Indonesia jurusan Visual Design ini bercerita kepada saya tentang mengapa ia tertarik belajar dan bahkan mengajar Bahasa Sanskerta.

Sanskerta adalah ibu dari banyak bahasa, kata Danan. Di Bali ada prasasti berbahasa Bali dengan huruf Devanagari (Aksara kuno yang digunakan dalam tulisan Sanskerta). Dan ada prasasti berbahasa Sanskerta dengan huruf Bali. “Jadi ada kaitan erat antara bahasa di Bali dengan Bahasa Sanskerta” Danan menegaskan. “Tapi Bahasa Bali banyak dilupakan. Bahasa Bali yang saat ini banyak digunakan berakar dari bahasa Jawa. Demikian pula, Sanskerta dianggap sebagai bahasa yang mati atau bahasa para Dewa saja. Akibatnya sastra Bali dan Sanskerta sama-sama dilupakan. Maka ada pergeseran kebudayaan di Bali”.

“Masyarakat Hindu di Bali mengakui Veda dan Bhagavad Gita sebagai kitab sucinya. Keduanya ditulis  dalam bahasa Sanskerta. Bahkan kitab Sarascamucaya, yang tidak ada di India, juga ditulis dalam bahasa Sanskerta”, kata guru muda ini. Mantra (doa) di Bali adalah dalam bahasa Sanskerta namun dilantunkan dengan cara Bali. “Tidak ada masalah apabila lafalnya benar”, menurutnya.

Berdasarkan hal itulah, ia ingin bejalar bahasa Sanskerta. “Sanskerta bukan milik satu negara, atau satu golongan atau satu umat agama tertentu. Bahasa ini adalah milik dunia. Semua orang bisa bebas bicara Sanskerta” ucap pemuda bersuara lembut ini.

Sira Empu Dharma Agni Yoga Sogata sepakat dengan dengan pernyataan ini. Menurut beliau banyak nama orang Indonesia yang akarnya berasal dari bahasa Sanskerta. Nama tempat seperti Jayapura (Jaya = kemenangan, Pura = kota/negeri – Kota kemenangan) di Papua dan penghargaan seperti Adipura, Adiwiayata, berasal dari bahasa Sanskerta. Demikian pula motto beberapa institusi di Indonesia berasal dari Bahasa kuno tersebut. Misalnya yang terkenal adalah Jalasveva Jayamahe (Jalesveva = di perairanlah; Jayamahe – kita berjaya). Bahkan sebutan untuk dasar negara kita, Pancasila, berasal dari Sanskerta (panca = lima; sila= pilar atau prinsip).

Pengaruh Sanskerta di Bali lebih besar. Delapanpuluh lima persen Bahasa Bali berakar pada bahasa Sanskerta. Banyak produk budaya dan prinsip hidup Bali diambil dari Mahabarata dan Ramayana, kisa epik yang ditulis dalam Bahasa Sanskerta.

Sira Empu Dharma Agni Yoga Sogata
Sira Empu Dharma Agni Yoga Sogata

Pendeta ini menyediakan rumahnya untuk dijadikan lokasi belajar bahasa Sanskerta, yang sebagian pesertanya adalah anggota keluarga besarnya. “Sebagai pendeta saya ingin memastikan pemahaman saya tentang mantra yang saya ucapkan” tegasnya. Kalau lihat terjemahan dari bahasa Indonesia, sepertinya kurang yakin, kata dosen di Institut Hindu Dharma Nusantara (IHDN) ini. “Karena kadang terjemahan itu asalnya dari Bahasa Inggris, dan mungkin ada ide penterjemah yang ikut dimasukkan. Jadi saya ingin bisa langsung dari Bahasa Sanskerta”.

Pendeta Yoga Sogata belajar Bahasa Sanskerta selama enam tahun saat kuliah di IHDN, Denpasar. “Belajar tata bahasa dan teori saja saat kuliah. Sekarang dengan sistem kursus 10 hari yang disebut Shibiram, saya bisa berbicara Sanskerta”, katanya. Terkesan dengan metode ini, beliau sedang merencanakan menulis tesis tentang Shibiram ini.

Belajar Sanskerta ternyata mudah seperti dituturkan oleh Danan. Pertama kali belajar pada September 2016, selama sepuluh hari (shibiram),  2 jam saja per hari. Materinya adalah percakapan sehari hari (Baca juga https://bebaspikir.com/2017/09/sanskerta-belajar-bahasa-dewa-cara-mudah/). Setelah itu dilanjutkan dengan pertemuan mingguan untuk memperdalam tata bahasa, ditambah belajar aksara Devanagari (bahasa tulisan untuk Sanskerta) dan latihan membaca Bhagavad Gita. Gurunya adalah Bapak Sumesh dan Made Suyasa. Kadang Dana menghadiri Shibiram di tempat lain untuk mempelajari lebih rinci materi dasar. Karena masih kuliah, ia kadang tidak bisa hadir penuh di Shibiram di tempat lain. Tapi dia berlatih berbicara dan menulis bahasa Sanskerta paling tidak 10 menit per hari. Ibunya dan adik perempuannya juga belajar bahasa Sanskerta.

Lalu suatu hari gurunya  menyarankan agar Danan belajar mengajar di Shibiram. Jika mengajar maka ia dapat mengembangkan tata bahasa dengan lebih baik dan akan memberi manfaat kepada masyarakat, bukan hanya menguntungkan diri sendiri. Atas dasar usulan itu, pada Mei 2017 Danan berangkat ke Chennai, India untuk belajar menjadi guru Bahasa Sanskerta selama 10 hari. Sepulangnya dari sana, ia mulai mengajar percakapan dasar Bahasa Sanskerta dalam Shibiram 10 hari. Setelah itu ia juga melatih pertemuan mingguan. Karena tinggal di Ubud, maka ia mengembangkan shibiram dan latihan bahasa Sanskerta di daerah Ubud dan Sukawati.

Danan mengatakan Sanskerta adalah bahasa tertua di dunia yang struktur bahasanya sangat lengkap dan terperinci. Namun, sistematikanya sangat sederhana dan mudah dimengerti dibandingkan bahasa lainnya. Dia merasa mendapatkan manfaat yang istimewa saat memperoleh  kesempatan untuk belajar bahasa kuno ini. Kini ia melantunkan sloka dari Bhagavad Gita dengan lebih lancar, membacanya dalam huruf/skript Devanagari, dan bisa memahami artinya. “Manfaat ini belum tentu bisa saya peroleh jika saya belajar di Universitas sastra, bahasa dan Agama”, katanya.

Manfaat lain, lanjut Danan, adalah ia mendapatkan kesempatan untuk melayani masyarakat, khususnya di Bali, melalui program memperkenalkan Bahas Sanskerta. Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama kembali belajar bahasa leluhur ini. “Saya ingin mengubah pandangan masyarakat bahwa Bahasa Sanskerta adalah bahasa yang sudah mati, bahasa yang tidak bisa digunakan untuk bercakap-cakap dan sulit dimengerti. Saya ingin memperlihatkan bahwa ini adalah bahasa yang sangat lengkap, dan tata bahasanya sederhana”, tegas pemuda dengan senyum manis ini.

Danan mengajar dengan santai

Berkaitan dengan hal ini, ia berencana menulis sesuatu yang bernuansa dan erat kaitannya dengan budaya bali, tapi bernuansa bahasa Sanskerta. “Semoga nanti bermanfaat untuk mengembangkan pengenalan bahasa dan menjadi landasan bagi pembelajaran bahasa Sanskerta terutama bagi masyarakat di Bali” lanjutnya. Cita-citanya adalah agar Bahasa Sanskerta diajarkan di sekolah dari SD hingga perguruan tinggi, tidak hanya di Bali tapi di Indonesia. Untuk itu, ia menyadari diperlukan sumber daya manusia yang mempunyai komitmen tinggi. Sepertinya itu tekadnya.

Lalu apa pesannya bagi sesama orang muda di Bali? Dana mengajak generasi muda untuk bersama-sama melakukan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Bukan berarti meninggalkan kebudayaan nenek moyang kita. Zaman boleh berganti, namun hendaknya karakter baik tidak pudar. Kita memang terdiri dari berbagai pulau, suku, ras dan agama, namun yang penting adalah bagaimana menjaga budaya yang baik untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian dalam kerangka hidup berdampingan sebagai suatu masyarakat.

Danan memilih berkontribusi belajar dan mengajar bahasa Dewa, sekaligus membumikannya. Ada banyak kekayaan tersimpan dalam bahasa Sanskerta. Salah satu yang menarik adalah budaya bercerita. Dalam setiap kelas 10 hari, selalu ada aneka cerita. Dan salah satu kekuatan Danan Jaya dalam mengajar adalah bercerita dalam bahasa Sanskerta (diselingi bahasa Bali agar dipahami para peserta), dan memperagakannya. Adalah atraksi tersendiri menyaksikan tingkahnya saat bercerita. Saya berkesempatan menghadiri kelas yang dipandu oleh Danan selama beberapa hari.

Bercerita agar peserta tidak bosan
Bercerita agar peserta tidak bosan

Pemuda tenang, tapi penuh semangat ini mengakhiri percakapan dengan pesan yang amat mendalam “Kita adalah generasi muda yang cerdas dan terpelajar. Hanya kita yang dapat mengubah dunia ke arah yang lebih baik, dan jadilah perubahan itu yang kita impikan!”.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *