MENGELOLA BAHAYA ALAM, MENGURANGI RISIKO DAMPAK BENCANA


Kategory : Categories Alam dan Hidup, Pembangunan berkelanjutan dan Globalisasi
Posted on

Gempa bumi sebetulnya tidak membunuh manusia. Yang membunuh adalah barang-barang yang ada di sekitar kita seperti bangunan rumah atau gedung yang roboh dan menimpa manusia1. Yang menyelamatkan orang saat bencana adalah kultur, kebiasaan dan pendidikan.

MENGELOLA BAHAYA ALAM, MENGURANGI RISIKO DAMPAK BENCANA 

“Apakah gempa bumi membunuh manusia?” Sekilas banyak orang mungkin menjawab “Ya”. Padahal bila ditelaah lebih jauh sebenarnya gempa bumi tidak membunuh manusia. Seperti dikatakan Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), gempa bumi sebetulnya tidak membunuh manusia. Yang membunuh adalah barang-barang yang ada di sekitar kita seperti bangunan rumah atau gedung yang roboh dan menimpa manusia1. Yang menyelamatkan orang saat bencana adalah kultur, kebiasaan dan pendidikan.

Hal ini dapat dilihat di Jepang. Menurut Jusuf Kalla saat, menjabat sebagai ketua Palang Merah Indonesia, bangunan di Jepang dirancang untuk siap terhadap gempa sampai skala tertentu. Mereka juga rutin menggelar latihan evakuasi saat bencana, sehingga orang tahu jalur yang harus ditempuh, harus pergi kemana untuk menyelamatkan diri serta tidak panik2. Artinya masyarakat Jepang paham bahwa mereka hidup di daerah yang sering mengalami gempa, dan mereka selalu menghadapi risiko. Mereka memilih untuk mengurangi risiko dengan memahami bahaya dan meningkatkan ketangguhan mereka. Kita bandingkan dengan Indonesia, yang berada di kawasan risiko bencana tapi sebagai masyarakat kita tidak siap.

Selama ini fenomena alam seperti gempa, kerap dinyatakan sebagai bencana “alam”, suatu takdir yang dikendalikan oleh alam dan/atau Tuhan; sesuatu yang tidak bisa dihindari manusia. Menurut UNISDR (Strategi Internasional PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana), tidak ada bencana alam, yang ada sebenarnya adalah “bahaya alam”3. Bencana terjadi apabila tingkat bahaya tinggi dan kerentanan masyarakat tinggi. Tingkat bahaya tinggi tidak selalu terjadi karena fenomena alam, tapi lebih sering diciptakan oleh salah urus lingkungan hidup, sosial dan ekonomi, atau secara umum salah urus pembangunan. Sebagai contoh, banjir, kekeringan, longsor, serta kebakaran hutan dan lahan adalah bahaya yang terjadi di Indonesia akibat salah urus pembangunan, bukan fenomena alam.

Bila demikian kondisinya, maka penanggulangan bencana atau pengurangan risiko bencana (wacana yang lebih mutakhir) sebenarnya adalah tentang mengurangi risiko dan kerentanan serta meningkatkan ketangguhan, mitigasi serta adaptasi dan pemulihan. Akibat salah urus pembangunan, risiko dan kerentanan masyarakat meningkat, sementara ketangguhan berkurang.

MEMAHAMI BAHAYA BENCANA DAN KERENTANAN

Untuk mencapai masyarakat yang tangguh bencana, perlu dipahami bahaya bencana yang dihadapi dan tingkat kerentanan masyarakatnya. Statistik bencana di Indonesia menunjukkan empat jenis kejadian bencana dengan frekuensi paling tinggi dalam kurun waktu 1815 hingga 2014 yanitu : banjir 37%, angin topan/badai 21%, tanah longsor 17% dan kekeringan 12% ( www.dibi.bnpb.go.id) seperti terlihat pada gambar 1. Dua dari keempat jenis bencana ini bukanlah akibat bahaya alam, tapi akibat kelalaian manusia. Banjir dan tanah longsor terjadi akibat kerusakan hutan, bentang alam, dan daerah aliran sungai. Sementara kekeringan adalah gabungan dari bahaya alam dan aktivitas manusia. Pada masa lalu banyak kawasan tidak menghadapi masalah kekeringan bila terjadi kemarau panjang karena sumber air dilindungi dan hutan masih utuh. Saat kini, kemarau yang sedikit lebih panjang daripada biasanya sudah menimbulkan kekeringan di banyak tempat di Indonesia.

Gambar 1 Statistik Frekuensi Bencana 1815-2014 (laman BNPB, diunduh Oktober 2014).

Jadi, satu-satunya bahaya alam pada empat kejadian bencana terbesar tersebut adalah angin kuat atau badai angin. Dari segi korban jiwa, tiga kejadian yang menimbulkan jumlah korban jiwa terbesar ditunjukkan pada gambar 2.

Gambar 2. Jenis Bencana dan Jumlah Korban per jenis bencana 1815 – 2014 (Laman BNPB diunduh Oktober 2014).

Tiga jenis bencana yang menimbulkan korban tertinggi adalah gempa bumi yang disertai tsunami, erupsi gunung api, dan banjir. Dua yang pertama adalah bencana akibat bahaya alam, yang ketiga adalah bencana akibat ulah manusia. Bila kedua gambar ini digabungkan, maka terlihat bahaya dan kerentanan Indonesia terhadap bencana. Menarik untuk disimak bahwa walaupun frekuensi bahaya gempa bumi diiringi tsunami tidak tinggi, tapi jumlah korban jiwa justru yang tertinggi. Kondisi serupa terlihat pada bencana letusan gunung berapi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia ternyata rentan terhadap bahaya alam tersebut, yang menunjukkan bumi Nusantara ini mempunyai struktur geografis yang membuatnya rentan pada kedua bahaya alam tersebut.

Ada hal lain yang tidak terlihat dari kedua gambar tersebut yaitu korban yang hidup. Mereka yang kehilangan tempat tinggal, harta benda, keluarga dan harus menata ulang seluruh proses hidup mereka. Bagi orang yang tidak berkecukupan secara ekonomi, dan yang tidak mempunyai akses cukup pada sumberdaya, hal ini tidaklah mudah. Menguburkan mereka yang meninggal adalah hal menyakitkan tapi segera selesai, menata ulang hidup para korban yang hidup lebih menyakitkan lagi. Dan itulah yang terjadi pada bencana seperti banjir, tanah longsor, kecelakaan industri (seperti kasus Lumpur Lapindo di Sidoardjo) dan konflik (contoh kasus konflik antar golongan di Maluku beberapa waktu lalu).

Memang statistik bencana kini mencantumkan kejadian bencana lain seperti kecelakaan jalan raya, kecelakaan industrial, konflik dan terorisme serta epidemi. Yang belum tercantum di statistik adalah bencana seperti kelaparan, gizi buruk ledakan hama pertanian/peternakan/perikanan seperti flu burung. Kartodiharjo dan Jhamtani (2006) menyebut keseluruhan bahaya ini sebagai krisis ekologi dan bencana pembangunan. Artinya bahaya bencana saat ini timbul akibat dari gejala alam, krisis ekologi dan salah urus pembangunan. Proses pembangunan juga menciptakan kerentanan di kalangan masyarakat melalui proses penutupan akses pada sumberdaya, pengabaian kekuatan sistem sosial yang hidup dalam masyarakat, dan kelalaian negara melindungi warga negara.

MEMBANGUN KETANGGUHAN

Seperti yang telah disebutkan, Indonesia adalah tempat yang rawan bencana. Bahaya ditimbulkan oleh gejala alam, oleh salah urus pembangunan dan kebijakan pembangunan yang salah arah. Sementara ketangguhan tradisional (indigenous resilience) yang dilandasi pengetahuan tradisional atau komunal semakin hari semakin dilemahkan karena diabaikan, kalau tidak boleh dibilang diremehkan. Padahal ketangguhan terhadap bencana seyogianya dibangun dari tingkat masyarakat dengan perangkat kebijakan yang tepat, serta pola pembangunan yang tidak menimbulkan bencana.

Untuk memberikan gambaran tentang membangun ketangguhan, kita bisa memetik pelajaran dari dua negara yaitu Jepang dan Kuba. Jepang disebut sebagai “negara yang paling siap di dunia” dalam menghadapi bencana gempat bumi dan tsunami. Pemerintah Jepang dipuji karena mengadakan latihan tanggap gempa bumi/tsunami, bagaimana mereka dengan cepat bisa mengorganisasikan Gugus Tugas Pertahanan Diri Nasional (National Self-Defense Forces) dan kesiagaan mengirimkan dokter dan relawan ke lokasi bencana. Bukan hanya itu. Mereka juga berhasil mendidik para individu di Jepang untuk tahu persis apa yang harus dilakukan dalam kondisi gawat darurat. Mereka punya jalur evakuasi, sistem deteksi dini dan peramalan gempa serta tsunami, dan di atas semua itu mereka mempunyai peraturan dan sistem yang berjalan untuk membangun ketangguhan menghadapi bencana (Chavez, 2014).

Namun ketahanan itu runtuh pada Maret 2011 ketika Jepang menghadapi bencana tiga lapis: gempa, tsunami dan bencana nuklir yang setara dengan Chernobyl. Pada 11 Maret terjadi gempa terbesar dalam sejarah Jepang mencapai 9 skala Richter. Gempa ini terjadi di wilayah bagian Utara. Kemudian disusul tsunami dengan gelombang air yang mencapai setara lantai sepuluh bangunan tinggi. Media massa memberitakan lebih dari 400.000 orang kehilangan tempat tinggal, 25.000 orang meninggal. Kemudian negeri yang paling siap menghadapi bencana ini dihadapkan pada krisis nuklir di pusat pembangkit nuklir Fukushima Dai-Ichi. Bahan radioaktif mengalir ke wilayah yang cukup luas bahkan terdeteksi hingga ke Tokyo. Sekitar 170.000 orang harus mengungsi. Dampak lain adalah kekhawatiran negara dan masyarakat di luar Jepang untuk membeli bahan makanan yang berasal dari Jepang karena dicurigai mengandung radioaktif (Des Marais dkk., 2012).

Ada dua penyebab dari kegagalan Jepang menghadapi benbana 2011 tersebut. Yang pertama, para ilmuwan Jepang tidak menyangka bahwa skala gempa dan tsunami akan sedemikian besar. Kedua, tsunami menyebabkan sistem pendingin gagal fungsi di pembangkit nuklir Fukushima sehingga menyebabkan krisis saat sekitar 300 ton bahan radioaktif bocor dan mengalir ke Samudera Pasifik (Osken, 2013). Inilah yang disebut sebagai bencana pembangunan. Bencana akibat bahaya alam yaitu gempa dan tsunami sudah bisa diatasi setelah beberapa waktu, tapi bencana nuklir hingga kini masih menjadi persoalan. Pesannya sederhana: tidak membangun nuklir di negeri yang menghadapi bahaya tsunami adalah pilihan pembangunan yang bijak dan berkontribusi pada ketangguhan menghadapi bencana.

Kuba menghadapi situasi serupa tapi berbeda. Negeri ini terkenal dengan bahaya badai topan dan keterbatasan sumberdaya finansial. Tapi Kuba mempunyai sistem pendidikan dan mobilisasi massal yang mengesankan dalam menghadapi bencana seperti badai topan. Kuba mempunyai sistem peramalan cuaca dan ketahanan sipil yang tangguh, teknologi komunikasi yang baik seperti radio dan televisi dan dukungan pemerintah dalam hal membangun ketangguhan menghadapi badai topan. Tingkat kepatuhan dengan perintah evakuasi juga bagus sekali. Program ini adalah alasan mengapa korban jiwa sangat kecil saat Badai Michelle menyerang pada November 2001 yang lalu. Walaupun ini badai paling ganas di Kuba sejak 1944, korban jiwa hanya lima orang. Sementara badai ini membuat Jamaika, Honduras dan Nikaragua porak poranda. Dalam ini Kuba tidak kalah dengan Jepang.

Tapi negeri ini sekarang juga menghadapi dampak perubahan iklim. Bahaya alam semakin kuat dan Kuba mungkin belum siap menghadapi dampak dari badai termasuk penyebaran penyakit yang dipicu oleh perubahan iklim. Negeri ini akan menghadapi bahaya yang disebabkan oleh kegiatan para negara dan masyarakat di negara maju. Seperti yang dikatakan oleh seorang pria yang kehilangan rumahnya saat Badai Michelle bertamu, “Alam semakin dirusak dan manusia mengabaikannya. Sudah sejak 50 tahun lalu saat Kuba menghadapi badai seperti Michelle. Alam semakin rusak; tolong negara-negara industri menanganinya” (Sims dan Vogelmann, 2002).

Dalam ketersiapan dan ketangguhan Kuba dan Jepang setara. Tapi kondisi finansial mereka berbeda. Walaupun Jepang adalah negara kaya, tragedi Fukushima menunjukkan bahwa mereka mengabaikan kaitan pembangunan dengan lingkungan hidup. Sementara sebagai negara dengan keterbatasan finansial, Kuba akan menghadapi situasi yang diciptakan oleh negara industri, yaitu perubahan iklim. Konsep ketangguhan menghadapi bencana yang mereka kembangkan mungkin juga akan runtuh seperti di Jepang. Cerita Kuba adalah derita banyak negeri berkembang lain seperti Indonesia.

Bercermin dari cerita di atas, membangun ketangguhan terhadap bencana adalah pilihan pembangunan dan pilihan politik. Seyogianya, pilihan program pembangunan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dini agar tidak melemahkan ketangguhan masyarakat, tidak meningkatkan bahaya, dan tidak meningkatkan kerentanan. Tindakan-tindakan sederhana untuk mengelola risiko sebenarnya juga bisa dipilih, dengan biaya yang relatif rendah.

Misalnya, hal sederhana saja, sudah saatnya kantor pemerintah (termasuk gedung DPR/DPRD) melakukan latihan simulasi menghadapi bencana, secara rutin. Demikian juga sekolah, universitas, desa dan kelurahan. Simulasi ini mirip yang dilakukan di gedung-gedung bertingkat di kota besar untuk melatih orang-orang gerak cepat saat ada kebakaran. Hal ini juga akan memperkenalkan masyarakat pada suatu realitas kehidupan, bahwa kita hidup di negeri yang unik karena berada di “cincin api”. Tidak perlu khawatir, kita bersahabat saja dengan bumi dan mengikuti iramanya, sambil memastikan kita mengurangi risiko. Kegiatan sederhana ini bisa mempunyai dampak mengurangi korban jiwa.

Hal-hal yang lebih rumit adalah mengatur pemukiman, misalnya agar terletak agak jauh dari gunung berapi, atau membuat peraturan yang mengharuskan semua bangunan baru bersifat tahan gempa dengan spesifikasinya. Tentunya dipastikan bahwa peraturan tersebut ditegakkan. Tindakan cepat bila terjadi bencana perlu ditingkatkan dan tindakan mitigasi serta pemulihan perlu diperbaiki dan diberi payung hukum yang tepat. Di atas semua itu, kita sebagai masyarakat perlu mengenali risiko, menanganinya bersama dan hidup bersahabat dengan bumi. Mari kita bercermin dari gempa yang terjadi baru-baru ini di Lombok dan Palu – pesannya jelas, sudah saatnya kita mengelola risiko alam secara bersama-sama, dengan koordinasi dan niat baik di pihak pemerintah.

Jadi, bencana terkait alam ini bukan karena alam murka atau ada yang berbuat dosa. Alam tidak pernah murka dan berbuat salah tidak ada kaitannya siklus alami bumi serta gunung dan lautnya.

Akhirnya, Ada hal mendasar yang amat penting. Siapa yang memicu atau meningkatkan risiko bencana haruslah yang memikul dampaknya, di tingkat lokal, nasional dan internasional. Ini bukan hal yang mudah, tetapi hal yang memungkinkan. Bahaya alam tidak bisa dihindari, hanya bisa dihadapi, tapi bencana pembangunan bisa dihindari. Pilihan ada di tangan kita!

Hira Jhamtani

DAFTAR RUJUKAN

Chavez, A, 2014. Japan: The most prepared Nation. The World Post 16 Desember 2014. (Online).

Des Marais, E.A., Bhadra, S dan Dyer Allen R, 2012. In the Wake of Japan’s Triple Disaster: Rebuilding Capacity Through International Collaboration. Advances in Social Work Vol 13 No.3 h. 340-357.

Kartodiharjo, H dan Jhamtani, H, (eds)2006. Politik Lingkungan dan Kekuasaan di Indonesia. Jakarta, Equinox Publishing.

Sims, H dan Vogelmann K, 2002 “Popular Mobilization and Disaster Management in Cuba” Public Admin.Dev. 22, h 389-400.

1 Surono:GempaBumi tidak Membunuh.html#sthash.gQAh6vLp.dpuf

www.satunews.com Selasa, 16 Agustus 2011. Diunduh 10 Oktober 2014

2 Jusuf Kalla: Gempa Bumi Tidak Membunuh Orang – www.yahoonews.com

diunduh 10 Oktober 2014.

3 What is Disaster Risk Reduction? www.UNISDR.org Diunduh 13 Oktober 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *